oleh

Puang Ri Tabang Sebagai Simbol To Manurung bagi Peradaban Era Mula Tau

 

*) Rahmat K Foxchy :  Menghadiri Acara Ritual Adat di Rumah Suci Puang Ri Tabang, Seolah Pikiran Kita Berinteraksi dengan Kekuatan Gaib Sosok To Manurung

 

 

BERBICARA tentang To Manurung dalam mitologi Bugis, tentunya tersirat berbagai versi menurut legenda rakyat pada setiap daerah di Sulawesi Selatan. Akan tetapi menurut mitologi Bugis itu sendiri, bahwa Puang ri Tabang merupakan simbol To Manurung bagi peradaban mula tau (manusia pertama) atau pada peradaban era purba.

Hal itulah, sehingga warga Bugis dan warga suku lainnya di Sulawesi Selatan ini, setiap tahun melakukan kunjungan acara ritual adat pada “Banua Kabusungan” atau “Rumah Suci Puang To Manurung Ri Tabang” tersebut. Walau harus berjalan kaki, melalui jalan terjal dan berliku  yang sangat melelahkan untuk bisa sampai pada lereng gunung yang menjadi lokasi “Banua Kabusungan” tersebut.

Tampak bagian depan Banoa Kabusungan atau Rumah Adat Puang Ri Tabang yang bertipe-tipe empat yang menyimbolkan tentang Pattala Jolo yang disebut Pattala A’pak. Sedangkan pada bagian belakang rumah adat ini adalah bertipe-tipe tiga yang menyimbolkan tentang Pattala Undi yang juga disebut Pattala Tallu. Adapun rumah adat ini dalam legenda Bugis disebut Bola Arajang.

Untuk bisa sampai ke sana, membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam 30 menit. Namun tidak menyurutkan warga dari berbagai suku di Sulawesi Selatan, bahkan ada yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia. Tidak jarang pula terdapat orang asing dari Belanda yang kerap melakukan kunjungan pada acara ritual adat yang digelar setiap tahun di “Rumah Suci” tersebut.

Untuk dapat sampai di Banoa Kabusungan tersebut, saat ini sudah bisa dijangkau dengan sepeda motor yang pengendaranya memiliki skil. Namun tidak sedikit pula yang berjalan kaki yang sangat melelahkan untuk menaklukkan jalan terjal dan berliku untuk bisa sampai pada “Rumah Suci Puang Manurung Ri Tabang” tersebut.

Pada tahun 2021 ini, Pemerintah Kabupaten Luwu sudah mulai membuka akses jalan rintisan  ke “Rumah Suci” ini dan sudah bisa dilalui sepeda motor. Hanya saja si pengendara harus memiliki skill untuk dapat menaklukkan akses jalan rintisan tersebut, untuk bisa sampai ke “Rumah Suci” ini oleh Suku Bugis menyebutnya “Bola Arajang”.

Kendati sudah dapat dilalui oleh sepeda motor, maka tidak sedikit pula pengunjung datang menghadiri acara ritual adat yang digelar di “Rumah Suci” pada Senin,  13 Desember 2021 lalu lebih memilih jalan kaki, salah satunya adalah Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy.

Setiap pengunjung dapat pula bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai wujud memperkenalkan diri kepada tokoh mitos Puang To Manurung Ri Tabang, untuk meminta apa yang sudah menjadi nazar. Hal ini dikemukakan saat bersujud tiga kali pada tiang tengah Banoa Kabusungan yang dipandu oleh tetua adat di Tabang.

Bagi aktivis LSM yang akrab disapa Bang Ories ini, mengaku harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki selama 2 jam 30 menit baru sampai di “Rumah Suci” ini. Namun semua terbayar lunas, setelah mengikuti acara ritual adat yang begitu sakral tersebut.

“Yah, lelah memang tapi sangat tidak rugi menghadiri acara ritual adat ini, sebab kita bisa menambah wawasan mengenai warisan nilai-nilai kearifan lokal. Selain pada lokasi tersebut, kita bisa menikmati panorama pemandangan alam pegunungannya yang begitu indah dengan udara yang sejuk,” tuturnya.

Ketua Pembangunan Banua Kabusungan, Rahman foto bersama dengan sejumlah pengunjung acara ritual adat Puang To Manurung Ri Tabang.

Menurut Bang Ories yang juga kadang disapa Bang Foxchy itu, bahwa menghadiri acara ritual adat tersebut, seolah pikiran kita berinteraksi dengan kekuatan gaib sosok To Manurung.  Sebab dalam acara ini, terjadi dialog antara tetua adat Tabang yang mengisahkan tentang legenda To Manurung sebagai simbol peradaban mula tau atau berperadaban era purba yang sangat sarat bermuatan paradigma mitos tersebut.

Dikisahkan melalui kegiatan dialog pada acara ritual adat ini, bahwa Puang To Manurung Ri Tabang merupakan pencetus tatanan adat pertama pada peradaban era mula tau. Konon melalui generasinya bernama Lakipadada Jolo yang melahirkan era Kedinastian Pattala Jolo maka dideklerasikanlah sebuah sumpah “Basse Sangtempe” sebagai ketentuan adat terhadap pembagian warisan kekuasaan kepada masing-masing, berikut :

  1. Untuk Luwu memperoleh warisan “pajung”artinya “payung” sebagai simbol kepemimpinan atau penyelenggara kekuasaan.
  2. Untuk Toraja diberikan warisan “angin” atau “pembawa aluk” sebagai simbol pranata adat.
  3. Untuk Bone diberikan warisan “tanah” sebagai simbol penyelenggaraan tatanan ekonomi.
  4. Untuk Gowa memperoleh warisan “api” sebagai simbol keberanian atau penyelenggaran sistem pertahanan.

“Adapun waisan yang tinggal pada Banoa Kabusungan di Tabang adalah hanya sebuah “Baka Sere” atau  semacam “Bakul Usang”. Konon pada suatu zaman nantinya akan diisi dengan emas.  Boleh jadi dengan akan dibukanya tambang emas di Rante Balla tersebut, sebagai bentuk ilustrasi terhadap pengertian warisan tentang legenda “Baka Sere” di Tabang tersebut.

Karena terungkap pula melalui dialog pada acara ritual adat ini, bahwa Rante Balla pada awalnya adalah dinamai Rante Tabang. Akan tetapi pada kesempatan itu, maka acara dialog sempat dipending, sebab  harus terlebih dahulu dilakukan ritual bakar tagari, sebelum memasuki sesi dialog “Ma’salu Nenek” atau berkisah tentang silsilah keturunan Puang To Manurung Ri Tabang.

Tampak pula beberapa ekor ayam dengan jenis warna bulu tertentu yang wajib dibawa oleh setiap pengunjung untuk dipotong dan dimakan bersama pada puncak acara ritual adat di Banoa Kabusungan Puang Ri Tabang, Senin (13/12/2021) lalu. Adapun acara ritual adat ini sudah menjadi kelender tahunan di Banoa Kabusungan ini, dengan senantiasa dihadiri ratusan pengunjung dari berbagai suku. Bahkan pada tahun-tahun sebelumnya, sebelum Pemkab Luwu membuka perintisan jalan untuk dilalui kendaraan, maka tak jarang pula dikunjungi wisatawan asing meski harus berjalan kaki yang sangat melelahkan selama 2 jam 30 menit tersebut.

Setelah dilakukan ritual bakar tagari tersebut, maka sesi dialog “Ma’salu Nenek” dilanjutkan oleh sejumlah tetua adat. Alasannya, sehingga terlebih dahulu dilakukan ritual bakar tagari, supaya tidak terjadi apa-apa pada setiap pengungjung acara ritual adat tersebut.

Menurut tetua adat Tabang bahwa To Manurung yang bergelar Puang Manrung Ri Tabang tersebut, bernama Puang Patunduk Jolo. Puang Patunduk sendiri mengadung arti adalah “menundukkan/menaklukkan” perilaku buruk umat manusia dengan meletakkan peraturan adat yang disebut “pemali”.

Jika “pemali” tersebut dilanggar, maka dikuatirkan mendapat bala’  yang disebut dengan istilah “mabusung”. Hal itulah, sehingga rumah adat Puang Manurung Ri Tabang disebut “Banoa Kabusungan” artinya “Rumah suci” dari pelanggaran-pelanggaran pemali. Hal itulah, maka rumah adat Puang To Manurung Ri Tabang ini, sehingga dapat diartikan sebagai “Rumah Suci Puang To Manurung Ri Tabang”.

Menurut cerita rakyat, bahwa Puang To Manurung Ri Tabang adalah memperistirkan putri Puang Ma’dika Dewatanna Ri Langi’ pada  peradaban era mitos bernama Kundalai Lino yang dipercaya keturunannya berasal dari Buri Liu. Puang To Manurung Ri Tabang sendiri merupakan seorang anak tunggal Puang Ma’dika Dewatanna Ri Langi’ yang berkedudukan di Banoa Sura’ Langi’ yang berasal-usul keturunan dari Puang Ri Latimojong.

Hal itulah, sehingga Puang To Manurung Ri Tabang dalam legendanya disebut-sebut sebagai Dewata yang turun dari langit, tapi pada dasarnya adalah keturunan dari Puang Ma’dika Dewatanna Ri Langi’ yang berkedudukan di Banoa Sura’ Langi’. Sedangkan penguasa mitosnya digelar Puang Ma’dika Sura’ To Mendewatanna Ri Langi’ dan salah satu rezim penguasanya disebut-sebut bernama Puang Rumpak Mula Tau.

Adapun Latimojong sendiri yang terdiri dari dua kosa kata, yakni “Lati” artinya “asal” dan “mojong” artinya “moyang” menurut pengertian bahasa Toraja Purba. Jadi Latimojong, sehingga dapat pula didefinisikan sebagai “asal mula nenek moyang”.

Kembali pada legenda tokoh mitos bernama Lakipada Jolo yang tak lain adalah keturunan dari Puang To Manurung Ri Tabang tersebut, bahwa dikisahkan berangkat dari Salu Borrong di Langi’ untuk pergi mengembara mencari mustika tentang kehidupan abadi hingga ke ujung dunia namun gagal.

Kendati Lakipadada Jolo gagal mencari kehidupan abadi tapi konon mampu memperoleh wangsit berupa ilmu ketabiban, untuk mengobati pandemi yang telah berkepanjangan melanda  peradaban Langi’ pada era mula tau tersebut.

Namun terdapat pula generasi berikutnya yang juga melahirkan seorang tokoh mitos bernama Lakipadada Undi, dikisahkan berangkat dari Batu Borrong di Sinaji. Untuk mengikuti jejak leluhurnya bernama Lakipadada Jolo, sehingga juga pergi mencari mustika tentang kehidupan abadi tapi ternyata juga mengalami kegagalan.  Pada generasi selanjutnya, rupanya juga lahir Lakipadada yang pada akhirnya menjadi Makole Bae Bunta.

Dalam perspektif legenda Basse Sangtempe, tidak hanya mengenal cerita rakyat mengenai tokoh mitos bernama Lakipadada Jolo dan tokoh mitos bernama Lakipadada Undi. Namun juga sangat mengenal generasi tokoh mitos Pattala Jolo  yang terdiri dari 4 bersaudara dan generasi tokoh mitos Pattala Undi yang terdiri tiga bersaudara.

Hal itulah, sehingga menjadi simbol tipe-tipe pada Rumah Adat Kabusungan di Tabang tersebut. Untuk empat susun tipe-tipe pada bagian depan rumah adat adalah menyimbolkan generasi tokoh mitos Pattala Jolo. Sedangkan untuk tiga susun tipe-tipe pada bagian belakang rumah adat adalah menyimbolkan generasi tokoh mitos Pattala Undi.

Sebelum kembali ke rumah masing-masing yang berada di berbagai daerah, Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy (kanan) lagi foto bersama dengan rumpun keluarganya pada tangga Banua Kabusungan di Tabang tersebut.

Sedangkan terkait dengan kisah tentang warisan “pajung” yang diperoleh Luwu melalui Pattala Bunga. Menurut legendanya, ketika Batara Guru dinobatkan menjadi Datu Luwu di Pedatuan, konon yang dideklerasikan adalah sebuah sumpah yang disebut “Basse Sangtempe”.  

Sesuai dinobatkan sebagai Datu Luwu, kemudian Batara Guru menuju ke Ussu untuk selanjutnya mendirikan sebuah Kerajaan Luwu yang berperadaban maritim purba, sehingga diberi gelar Pajung Ri Luwu Pertama.

Adapun Pedatuan, merupakan sebuah nama lereng gunung di Langi’ dan sekarang ini berada di dalam wilayah Desa Andulan, Kecamatan Basse Sangtempe, Kabupaten Luwu.

Selanjutnya, jika menyimak tentang cerita rakyat, bahwa rupanya Sumpah “Basse Sangtempe” sepertinya senantiasaa dideklerasikan pada era peradaban mula tau. Sementara Puang Sanggalangi, rupanya juga mendeklerasikan kembali sumpah ini untuk merestorasi era “kedinastian pitu/tujuh kapuangan” warisan  peradaban era purba, untuk menjadi tatanan adat Banoa A’pak Tongkonan Anan Pulona.

Adapun ketujuh susuan “kedinastian kapuangan” warisan peradaban era purba yang dilikwidasi tersebut, yakni : Kapuangan ri Sinaji, Kapuangan Ri Biduk, Kapuangan Ri Singki, Kapuangan Ri La’kak, Kapuangan Ri Tangdu, Kapuangan ri A’dok dan Kapuangan Ri Tede selaku penutup terhadap kedinastian tujuh kapuangan warisan peradaban era purba.

Hal inilah, maka Puang Ri Tede disebut sebagai rezim kapuangan terakhir warisan peradaban era purba dalam mitologi Basse Sangtempe, atau juga disebut-sebut adalah rezim kapuangan bungsu, dengan kata lain mengakhiri tatanan kekuasaan kedinastian kapuangan warisan peradaban era purba.

Jadi dengan dilikwuidasinya kedinastian kapuangan warisan peradaban era purba tersebut, maka dalam legenda rakyat disebut pula dengan istilah “lontami kapuangan”.

Akan tetapi pada zamannya terdapat sejumlah simbol-simbol “kapuangan” tidak dilikwidasi oleh Puang Sanggalangi, yaitu : Puang Ri Tabang yang sebelumnya disebut Puang Manurung Ri Tabang, Puang Ma’dika Sura’ Ri Langi’ pada peradaban mitos era purba digelar “Puang Ma’dika Sura’ To Mendewatanna Ri Langi’”, Puang To Kasalle Ri Tabuan, Puang Titumbang Ri Pawele dan Kapuangan Tallu Lembangna di Tana Toraja.

Bahwa khusus untuk legenda Puang Ma’dika Sura’ Ri Langi’ selaku pemegang kekuasaan mitos yang bersifat independen di Langi’ yang berkedudukan pada Tongkonan Banua Sura’ Langi’. Pada gilirannya rumah adat tersebut dinamai “Banua Sura’ Langi di Ojo”.

Sedangkan mengenai kisah potong ayam pada acara ritual adat di Rumah Adat Puang To Manurung Ri Tabang ini, pada awalnya yang dipotong adalah ayam jenis betina berbulu warna rame dengan ciri-ciri berwarna loreng khusus. Maksudnya, sebab ayam betina melahirkan banyak anak yang menyimbolkan beranak-pinaknya anak manusia dari generasi ke generasi untuk menghuni bumi.

Sedangkan ayam betina jenis berbulu warna rame (warna loreng tertentu), mengandung arti untuk melahirkan generasi yang beragam suku atau etnis yang saling menghormati dalam sebuah kerukunan yang dilandasi dengan semangat pluralisme.

Sedangkan ayam jantan berbulu warna putih baru dipotong, saat tokoh mitos Lakipadada Jolo berangkat untuk melakukan perjalanan suci guna mencari mustika tentang kehidupan abadi tapi gagal.

Begitupun halnya pada saat tokoh mitos Lakipadada Undi, ketika juga berangkat melakukan perjalanan suci untuk mencari mustikan tentang kehidupan abadi tersebut tapi juga mengalami kegagalan.  Hal itulah, memandakan bahwa manusia tidak akan pernah suci.

Akhirnya ayam jantan berbulu warna putih sebagai simbol kejantatan yang suci, maka sudah tidak lagi dipotong pada acara ritual adat di “Bola Arajang” tersebut.

Namun kemudian digantikan dengan ayam jantang berwarna merah dengan ciri-ciri khusus yang juga disebut ayam jantan berbulu warna “balibi” atau “merah” sebagai simbol kesatriaan. Hal itulah, sehingga muncul tokoh-tokoh mitos dari Tabang yang berjiwa kesatria, sampai disematkan dengan gelar “Londong Tau di Tabang” atau “Pea Muane Jomai Tabang”.

Konon Puang Sanggalangi dengan jiwa kesatriannya yang sifatnya masih sangat berdimensi mitos tersebut, saat berangkat untuk mengembalikan Datu Luwu dari Bone, terlebih dahulu melakukan ritual adat dengan cara memotong ayam jantan berbulu warna balibi.

Setelah kembali membawa Datu Luwu dari Bone, namun sebelum membentuk tatanan Banua A’pak Tongkonan Annan Pulona, maka terlebih dahulu pula memotong ayam jantan berbulu warna balibi di Rumah Suci Puang Ri Tabang tersebut.

Hanya saja Puang Sanggalangi tidak dibenarkan untuk membentuk tatanan Banua A’pak Tongkonan Annan Pulona pada Rumah Suci Puang Ri Tabang ini, demi menjaga kesakralan mitos Puang Ri Tabang itu sendiri. Akhirnya pembentukan tatanan Banua A’pak Tongkonan Annan Pulona dilakukan di Pantawan, Maindo.

Jadi mendasari kisah-kisah inilah, sehingga pemotongan ayam jantan berbulu warna balili, sudah menjadi tradisi secara turun-temurun pada setiap tahun acara ritual adat pada rumah suci Puang Ri Tabang tersebut.

Pada gilirannya, melalui acara dialog pada acara ritual adat tahun 2021 ini, sehingga disepakati untuk menerbitkan buku tentang “Jejak Rekam Puang Ri Tabang” lengkap dengan pengertian simbol-simbol yang terdapat pada Rumah Suci itu sendiri, beserta larangan-larangannya. Untuk itu, maka diharapkan pada segenap rumpun agar dapat berpartisipasi atas rencana penebitan buku tersebut.

Untuk diketahui, bahwa digelarnya dialog ritual adat ini, untuk mensyukuri semangat kebersamaan rumpun atas dibangunnya kembali Rumah Suci atau Banua Kabusungan Puang To Manurung Ri Tabang, untuk menggantikan rumah adat sebelumnya yang sudah sangat rapuh bangunannya tersebut. (Redaksi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed