Kegiatan ‘PT Masmindo’ Mulai Jadi Sumber Ancaman Bencana Tanah Longsor, Masyarakat Adat Juga Mulai Blokir Akses Jalan Perusahaan Tambang

News1,009 views

Bang Foxchy : Hindari Aksi Anarkisme Massa Terhadap Pengrusakan Aset Perusahaan

 

Tabloid SAR – Kegiatan pertambangan PT Masmindo Dwi Area (Masmindo) kian terus menjadi sorotan publik. Pasalnya, perusahaan pertambangan emas salah satu anak perusahaan INDIKA GROUP yang berkokasi di Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan ini. Sepertinya semakin menuai penolakan dari masyarakat adat Ranteballa-Boneposi, Kecamatan Latimojong.

Apalagi kegiatan perusahaan pertambangan emas terbesar di Sulawesi Selatan ini, seolah sudah akan mulai menjadi sumber bencana tanah longsor. Hal tersebut sebagaimana informasi yang disampaikan oleh sejumlah tokoh masyarakat adat, dengan tidak lupa pula mengirimkan vidio dan foto-foto peristiwa tanah longsor di Desa Boneposi, Kecamatan Latimojong.

Samsu Ali, salah satu tokoh masyarakat adat Desa Boneposi, menyampaikan pada hari, Rabu (01/05-2024) terjadi tanah longsor yang hampir menimbun satu unit mobil dumk truck. “Tanah longsor itu diduga kuat penyebabnya adalah salah satu titik pengeboran kegiatan pertambangan PT Masmindo,” tuturnya kepada media ini.

Lanjut Koordinator Rumpun Masyarakat Adat Keluarga Puang Diduni ini, sepertinya sudah mulaimi berbahaya itu titik-titik pengeboran kegiatan pertambangan PT Masmindo. “Kalau sudah begini jadinya, sangat bisa sekalimi menjadi sumber bencana tanah longsor yang sangat dapat mengancam warga Kecamatan Latimojong,” ucapnya dalam dialek lokal setempat.

Samsu Ali juga menyampaikan, bahwa masyarakat adat juga sudah mulai memblokir akses jalan keluar masuk perusahaan tambang untuk melarang kendaraan atau armada PT Masmindo melintas pada wilayah adat di kedua desa ini.

Lanjut ia mengemukakan, faktor dilakukannya pemblokiran akses jalan tersebut, karena masyarakat adat sudah mulai emosi kepada perusahaan pertambangan emas ini. “Soalnya, sudah akan memaksakan untuk melakukan kegiatan konstruksi, padahal pembebasan lahannya saja masih sangat kita permasalahkan. Apalagi lebih mempekerjakan tenaga kerja dari luar,” bebernya.

Faktor itulah, sambungnya, maka dilakukannya pemblokiran akses jalan keluar masuk tambang di desa kami ini. Apalagi pihak perusahaan sepertinya tidak mau menerima anak-anak kami di Desa Boneposi ini dan juga anak-anak Desa Ranteballa untuk menjadi tenaga kerja.

“Kami mendengar selentingan informasi, akibat faktor pembebasan lahan yang kami permasalahkan, itumi katanya jadi penyebab PT Masmindo lebih memilih tenaga kerja dari luar,” imbuhnya.

Kami masyarakat adat di Desa Boneposi, tutur Samsu Ali lagi, tidak akan pernah membiarkan PT Masmindo untuk melakukan kegiatan pertambangan, khususnya di wilayah tanah adat kami di Desa Boneposi ini. “Walau itu sudah dibebaskan pihak perusaan ini, tapi itukan justru dibebaskan melalui para pelaku mafia tanah,” tukasnya.

Apabila memang sudah ingin melakukan kegiatan penambangan, tuturnya lebih lanjut, silahkan mi saja PT Masmindo itu mencari lahan miliknya sendiri para pelaku mafia tanah itu, karena pertumpahan darah akan terjadi apabila masuk melakukan kegiatan penambanagn di wilayah tanah adat kami di Desa Boneposi ini.

Kami masyarakat adat Boneposi sama sekali tidak mengancam, lebih lanjut ia menyampaikan, tapi yang kami sangat tolak itu adalah kesewenang-wenangan terhadap perampasan lokasi tanah adat kami secara turun-temurun.

“Jadi hal itulah, maka kami juga sudah dua hari memblokir akses jalan keluar masuk perusahaan tambag di desa kami ini agar tidak dilalui kendaraan PT Masmindo. Begitupun juga warga Desa Ranteballa sudah pula melakukan pemblokiran akses jalan keluar masuk perusahaan tambang itu,” ungkap Samsu Ali melalui hubungan komunikasi handponenya.

Fitri Nasir mengaku sangat mendukung aksi pemblokiran jalan tersebut, sebagai bentuk perjuangan untuk mempertahankan lokasi tanah warisan leluhur kita dari dugaan tindakan kesewenang-wenangan perampasan dari pihak perusahaan.

Saya sangat bersyukur, lanjut Fitri, karena keluarga masyarakat adat di Boneposi dan Ranteballa juga sudah mulai bersatu untuk melakukan aksi perlawanan demi mempertahankan warisan tanah leluhurnya.

“Saya bersama Bang Foxchy (Rahmat K Foxchy) sedang berjuang di Jakarta, maka perjuangan itu juga untuk semua rumpun keluarga yang hak-hak agrarisnya telah dizalimi melalui pelaksanaan pembebasan lahan PT Masmindo tersebut,” ucapnya.

Jadi jangan pernah salah mengira, kata Fitri lagi, kalau saya bersama Bang Foxchy di Jakarta hanya memperjuangkan diri sendiri. Apabila perjuangan kami berdua di Jakarta itu berhasil, maka itu juga merupakan keberhasilan perjuangan semua keluarga yang lokasi tanah warisannya yang juga telah dirampas para mafia tanah melalui pelaksanaan pembebasan lahan PT Masmindo tersebut.

Insya Allah,sambungnya, kasus kita ini sudah mendapat penanganan oleh Pemerintah Pusat berwenang. Doakan agar perjuangan saya bersama Bang Foxchy di Jakarta ini, bisa berhasil dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Kalau kami berdua berhasil, berarti itu juga merupakan keberhasilan perjuangan semua rumpun keluarga,” ungkap Fitri Nasir.

Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy membenarkan ungkapan Fitri tersebut. Namun pegiat LSM yang lebih kerap disapa Bang Foxchy ini, tak lupa meminta agar menghindari aksi anarkisme massa pada pemblokiran akses jalan tersebut.

“Saya tentunya sangat mendukung pemblokiran akses jalan yang dilakukan masyarakat adat itu, tapi jangan melakukan aksi anarkisme massa untuk melakukan pengrusakan terhadap aset perusahaan,” harapnya.

Bang Foxchy lanjut menyampaikan, jika dirinya juga sudah ditemui utusan khusus salah satu perwakilan pemegang saham PT Masmindo. “Kemarin saya di Kalibata City Jakarta Selatan ditemui utusan khusus salah satu perwakilan pemegang saham PT Masmindo, untuk membahas terkait dengan penanganan solusi mengenai kasus pembebasan lahan tersebut,” ucapnya.

“Apabila memang pihak perusahaan punya itikad baik, kita juga sangat siap bernegoisasi untuk menyelesaikan kasus pembebasan lahan tersebut, melalui jalur nonlitigasi untuk bermusyawarah mencapai mufakat,” begitu point pembicaraan Bang Foxchy dengan utusan khusus salah satu perwakilan pemegang saham PT Masmindo tersebut.

Kendati demikian, pegiat civil society (masyarakat sipil) yang juga akrab disapa Bang Ories ini, mengaku masih menunggu lebih lanjut perkembangan penanganan kasus pembebasan lahan ini pada kantor Kemenko Polhukam.

“Soalnya, baruan juga saya menerima ditelepon mengenai progres penanganan pada kantor Kemenko Polhukam, terkait dengan kasus pembebasan lahan PT Masmindo tersebut,” terang Aktivis Pembela Arus Bawah ini. (Redaksi/Made)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *