oleh

Siapkah Kita Mengandalkan Metode Pendekatan “Herd Immunity” dalam Menghadapi Kebijakan “New Normal Life” Nantinya?

Di tengah belum adanya kepastian akan berakhirnya pandemi Covid-19. Namun pemerintah sudah mulai mewacanakan sebuah gagasan kebijakan tentang kehidupan normal baru yang disebut dengan istilah new normal life.

Rahmat K Foxchy

Tentunya dengan diberlakukannya gagasan atas kebijakan new normal life nantinya, maka masyarakat pun juga sangat diharapkan agar dapat segera melaksanakan aktifitas baru seperti semula, dengan mengandalkan metode pendekatan herd immunity.

Baca Juga :

Adapun maksud dari istilah herd immunity ini adalah semacam kekebalan kelompok atau kolektif dalam kondisi ketika sebagian besar orang atau suatu kelompok telah memiliki kekebalan terhadap penyakit infeksi tertentu.

Maksudnya, bahwa semakin banyak orang yang kebal terhadap suatu penyakit menular, maka semakin sulit bagi penyakit tersebut untuk menyebar, karena sudah tidak banyak orang yang dapat terinfeksi.

Sedangkan gagasan tentang kebijakan new nomal life ini, rupanya akan sangat mengandalkan metode pendekatan herd immunity, sebagaimana dilontarkan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.

Menurut Presiden Jokowi, bahwa pemerintah akan mengatur agar aktifitas kehidupan masyarakat secara perlahan dapat kembali berjalan normal. Alasannya, karena kehidupan telah mengalami perubahan yang begitu drastis, akibat pandemi dan sudah mesti dilawan dengan metode pendekatan herd immunity, untuk memulai sebuah paradigma yang disebut new normal life tersebut.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi menyatakan agar masyarakat harus dapat hidup berdampingan dengan Covid-19, sehingga perlunya diterapkan langkah kebijakan new normal life dengan mengandalkan metoda pendekatan herd immunity tersebut.

Pertanyaan penting yang perlu disodorkan atas wacana terkait gagasan kebijakan pemerintah ini, apakah kita semua di Indonesia telah siap menjalani kembali kehidupan normal baru tersebut?

Pada dasarnya publik belum sangat memahami asumsi apa yang dijadikan standar , jika nantinya konsep kebijakan new normal life segera diberlakukan. Mungkinkah asumsi itu sudah digodok secara matang, sehingga gagasan kebijakan ini sudah dapat dilontarkan dalam wacana.

Sementara virus corona belum bisa dibasmi dalam waktu dekat. Apalagi vaksin anti virus ini hingga saat ini belum juga ditemukan, walau para ahli virus di seluruh dunia sedang melakukan penelitian untuk berupaya menemukan vaksin tersebut.

Sudah barang tentu dengan diberlakukannya gagasan new normal life di tengah masih tingginya masyarakat terpapar virus mematikan ini. Sepertinya Presiden Jokowi, akan mengandalkan metode pendekatan herd immunity.

Tujuannya masih sangat absurd untuk dapat mengandalkan kekebalan kelompok atau kolektif dalam menghadapi ancaman kematian akibat virus ini, untuk mengharapkan masyarakat supaya dapat kembali beraktifitas seperti sedia kala, melalui penerapan kebijakan new normal life tersebut.

Sebagaimana telah diketahui, sejak diumumkannya pertama kali pasien Covid-19 di Indonesia pada Maret 2020, maka secara drastis pula telah mengubah kehidupan masyarakat dengan mengakumulasi berbagai persoalan sosial selama pendemi global ini berlangsung.

Seperti kegiatan belajar-mengajar di universitas dan sekolah-sekolah, yang biasanya dilakukan melalui pertemuan fisik, harus diganti dengan pertemuan jarak jauh. Kantor-kantor pemerintah meliburkan pegawainya, dengan metode kerja dalam bentuk work from home.

Selain itu, termasuk tempat ibadah pun ditutup bagi ritual keagamaan, untuk mencegah terjadinya penularan virus secara jamaah. Termasuk banyaknya perusahaan swasta yang terpaksa memberhentikan karyawannya, akibat lesunya bisnis yang dijalankan akibat dari dampak Covid-19 ini.

Bahkan untuk menghadang dampak negatif terhadap virus ini secara berkepanjangan, maka masyarakat tidak lagi melakukan aktifitas ekonominya secara normal. Akibatnya tidak jarang anggota masyarakat mengalami kelaparan sampai beberapa diantaranya justru berjung pada kasus kematian.

Jadi untuk dapat melaksanakan gagasan new normal life dalam bentuk kebijakan tersebut, dengan cara mengandalkan metode pendekatan herd imunity. Sepertinya belum dapat diterapkan sebelum adanya data akurat tentang puncak kasus wabah Covid-19 yang sedang melanda di Indonesia saat ini.

Apalagi saat ini, kurva mengenai kasus positif virus corona masih mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Meski di sejumlah daerah, sudah ada beberapa yang mengalami penurunan penularan yang cukup menggembirakan.

Dari sini ini sehingga patut dipertanyakan, apakah gagasan new normal life ini siap diimplementasikan dalam bentuk kebijakan atau hanya sekedar wacana belaka?

Jika memang telah siap dilaksanakan, berarti sudah ada dukungan evidence based (berdasarkan bukti) yang bersifat valid untuk mengiplementasikan kebijakan tersebut. Apabila hanya sekedar untuk mencoba-coba, maka sangat dikuatirkan justru akan lebih memicu terjadinya bencana kemanusiaan yang semakin feliks.

Namun bila sudah ada bukti-bukti kuat yang dapat dijadikan untuk memulai sebuah kehidupan normal yang baru. Maka sebaiknya perlu dilempar terlebih dahulu ke ruang publik agar dapat dikritisi dan disempurnakan. Tetapi jika hanya sekedar untuk coba-coba saja, lebih baik kebijakan tersebut diurungkan.

Jadi sudah semestinya pula, bahwa tidak boleh ada keputusan penting tanpa perencanaan yang matang. Apalagi menyangkut keselamatan nyawa banyak orang. Kendati memang semua sangat menginginkan agar virus corona segera hilang hingga kehidupan dapat kembali normal.

Namun demikian, tentunya berbagai konsekuensi atas setiap kebijakan mesti wajib terlebih dahulu dipikirkan secara matang, apabila gagasan kebijakan new normal life akan diberlakukan, dengan hanya sebatas mengandalkan metode pendekatan herd immunity.

Jadi sangat perlu ditekankan, bahwa pemerintah jangan hanya melihat dari satu sudut pandang saja. Misalnya, sudut pandang ekonomi agar perekonomian dan pendapatan masyarakat kembali stabil. Apalagi masyarakat kita sangat tidak disiplin dalam mengikuti protokoler kesehatan terhadap pencegahan Covid-19.

Jika nantinya kebijakan atas gagasan new normal life tersebut sampai diberlakukan, tanpa terlebih dahulu dilakukan pengkajian secara matang. Pada gilirannya, bukan tidak mungkin Indonesia nantinya akan justru menjadi episentrum penularan Covid-19 paling mengerikan di muka Planet Bumi ini.

Hal tersebut, lantaran mahalnya biaya kesehatan virus ini di tengah kehidupan ekonomi masyarakat yang sudah terpuruk. Terlebih pemerintah juga sudah mengalami kedodoran anggaran, untuk dapat menanggung perawatan pasien Covid-19. Sehingga sangat dikuatirkan pula akan semakin menimbulkan bergelombang bencana kemanusiaan.

Tentunya, kita semua sangat ingin kembali bekerja di kantor, anak-anak dapat belajar di sekolah, berdagang di pasar, bertani dan bercengkerama dengan kerabat. Termasuk bepergian ke mana saja serta melakukan berbagai aktifitas lainnya, tanpa lagi dibayangi rasa ketakutan akan terpapar virus mematikan tersebut.

Kitapun juga sangat menghargai atas adanya optimisme pemerintah, untuk berharap kurva corona sebentar lagi akan segera landai. Hal ini, toh bukan juga merupakan analisa yang salah. Akan tetapi mungkin itulah cara pemerintah dalam memahami sebuah ungkapan Napoleon Bonaparte yang sangat terkenal, yakni : A leader is a dealer of hope.

Jadi dengan adanya gagasan pemerintah untuk memberlakukan kebijakan new normal life, dengan mengandalkan metode pendekatan herd immunity tersebut. Tentunya pula masyarakat akan semakin dituntut untuk harus selalu waspada terhadap paparan virus yang telah banyak merenggut nyawa manusia ini.

Kita pun tidak ingin kasus kematian akibat virus corona terus bertambah, bila kebijakan new normal life benar-benar akan diterapkan pemerintah. Sebab perlu pula dipahami, mengingat ada jiwa dan nyawa sesama yang harus dihargai dan dilindungi.

Oleh sebab itu, pemerintah janganlah hanya melihat jumlah kasus Covid-19 sekadar dalam angka semata. Jadi buatlah sebuah kebijakan yang kokoh berdasarkan bukti kuat, sehingga bisa meminimalisasi dampak negatif yang akan muncul nantinya.

Akhirnya melalui artikel ini, penulis tak lupa menghimbau agar masyarakat senantiasa mencuci tangan dengan sabun, selalu memakai masker, harus terus menjaga jarak fisik dan jangan memasuki kerumunan banyak orang atau memasuki daerah yang masih dilanda wabah virus corona.

Apabila kita senantiasa tertip dan patuh mengikuti standar protokoler kesehatan tersebut. Insyah Allah, kita telah memberikan kontribusi dalam memutus mata rantai Covid-19 ini agar segera berlalu. Pada gilirannya pula kita dapat kembali melakukan aktifitas seperti semula dalam sebuah paradigma new normal life yang sesungguhnya.

 

*****) Penulis : Direktur Eksektif Aktivis Pembela Arus Bawah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed