oleh

Rahmat K Foxchy : Jauh Lebih Mudah Menemui Walikota dan Para Jenderal di Mabes

PALOPO | NEWSTABLOIDSAR.com- – Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy mengecam keras pelayanan Asisten Pribadi (Aspri) Sekda Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

Pasalnya, dirinya sudah berjam-jam menunggu, mulai pukul 09.30 Wita -14.31 Wita, untuk menunggu jadwal beraudiens dengan Sekda Kota Palopo, Firmansyah DP, tapi tidak juga dilayani dengan baik oleh Asprinya tersebut.

Baca Juga :

Jadi pelayanan buruk seperti ini, kata aktivis LSM yang dikenal vokal tersebut, sangat perlu dikecam supaya Aspri Sekda Kota Palopo tersebut, tidak lagi menunjukkan sifat aorgansinya dalam memberikan pelayanan terhadap tamu-tamu Sekda.

“Apalagi Sekda itukan, pejabat karier paling sentral dengan posisi yang sangat  strategis di daerah, jadi sangat perlu dijaga wibawahnya di hadapan masyarakat apapun bentuk kelas sosialnya,”  tukasnya.

Saya kan mau ketemu Pak Sekda, kata Aktivis LSM yang dikenal vokal ini, sebab sebelumnya Pak Walikota menanyakan, bahwa apa sudah ketemu Pak Sekda yah Nak. Lalu saya jawab, belum haji (HM Judas Amir –red).

Lanjut aktivis LSM yang akrab disapa Bang Ories tersebut, karena saya baru memiliki kesempatan pada hari ini, Selasa (28/01/2020) kemarin, sehingga saya menemui Pak Sekda, sekitar pukul 09.30 Wita.

“Saat saya bertanya pada Aspri Pak Sekda pada ruang tunggu yang tersedia tersebut, salah satu cowok justru menjawab dengan cara ketus,” ucap Bang Ories, sembari menirukan ungkapan Aspri Sekda Palopo tersebut, “memang ada urusan apaki mau ketemu Pak Sekda,” begitu jawaban Aspri cowok dalam logat lokal yang sangat terkesan tidak simpatik tersebut.

“Lalu saya sampaikan, apa begini kasarnya cara menyapa tamu yang datang untuk bertemu Pak Sekda, ya. Tidak begini namanya pelayanan publik. Jadi tolonglah ramah terhadap tamu-tamu Pak Sekda, yah,” begitu pula teguran saya pada  cowok itu, tak lain adalah salah satu Aspri Pak Sekda Kota Palopo tersebut.

Hanya saja, tutur Bang Ories, salah satu perempuan menyampaikan, bahwa Pak Sekda lagi rapat, jadi bersabarki dulu menunggu, ucap perempuan itu dan juga salah satu Aspri Sekda Palopo yang juga berdialek lokal, dengan cara berusaha untuk bersikap ramah.

Lanjut Bang Ories menjelaskan, jika dirinya sempat menunggu sambil duduk pada kursi yang tersedia di ruang tunggu Sekda Palopo.

Karena rapat  Sekda sepertinya akan lama, sehingga saya pun beranjak ke luar, sambil menunggu Sekda hingga diperkirakan selesainya rapat. Akan tetapi rupanya Sekda lanjut rapat bersama Walikota Palopo pada lantai tiga Kantor Walikota Palopo.

Seusai rapat bersama Pak Walikota, aktivis LSM ini, mengaku kembali menuju ruang kerja Sekda Palopo. Tapi sepertinya Pak Sekda buru-buru meninggalkan ruang kerjanya. Lalu Beliau (Sekda –red) degan ramah menyapa saya, nanti yah kita ketemu, saya (Sekda –red) lagi buru-buru ke undangan pengantin, bosku.

Lanjut Bang Ories menjelaskan, setelah diperkirakan Pak Sekda sudah kembali dari acara pengantin. Saya pun kembali ke ruang kerja Sekda Palopo. Namun di dalam ruangannya sudah ada tamu, maka saya pun menunggu sambil duduk pada ruang tunggu Pak Sekda Palopo tersebut.

Ia mengaku sangat bersabar menunggu giliran untuk dapat menemui Sekda Palopo. Namun justru silih berganti tamu-tamu lainnya keluar masuk ruang kerja Sekda tersebut. Sementara dirinya yang sudah beberapa jam duduk di ruang tunggu, tapi sama sekali tidak digubris oleh Aspri Sekda Palopo tersebut.

Akibat merasa diperlakukan sangat diskriminatif  oleh pihak Aspri Sekda Palopo tersebut. Akhirnya, sekitar pukul 14.31 Wita, maka aktivis LSM yang kerap menggelar aksi demonstrasi di Jakarta, termasuk pada Kantor KPK dan Kejaksaan Agung tersebut. Lalu Bang Ories meninggalkan ruang tunggu Sekda Palopo ini, untuk kembali ke kantor Redaksi Tabloid SAR di Jalan Pongsimpin.

Terkait adanya perlakukan yang sangat bersifat diskriminatif yang dirasakannya pada ruang tunggu Sekda Palopo tersebut. Pada gilirannya aktivis LSM dikenal bernama “Ories Foxchy” pada akuan facebook pribadinya tersebut, lalu menulis satus di dinding facebook pribadinya ini, sebagaimana bunyi screenshot berikut.


Setibanya kembali di kantor redaksi media yang dinahkodainya tersebut, kamudian Bang Ories memangngil Pimpinan Redaksinya. Ia pun memerintahkan, bahwa jadikan berita sorot atas adanya peristiwa buruknya pelayanan publik seperti ini.

“Pelayanan publik bersifat diskriminatif seperti ini tidak boleh dibiarkan, karena hal seperti itu merupakan pelanggaran HAM bagi masyarakat dalam memperoleh pelayanan publik yang baik,” begitu tegasnya perintah Rahmat K Foxchy atas kedudukannya sebagai Pimpinan Umum Tabloid SAR kepada Pimpinan Redaksinya tersebut.

Alasannya, dirinya saja diperlakukan sangat diskrimitanif seperti ini apalagi namanya warga biasa. Karena apapun bentuk kepentingannya, maka pelayanan publik tidak boleh melihat kelas sosial terhadap setiap tamu yang ingin menemui setiap pejabat pemerintah.

“Mungkin pihak Aspri Pak Sekda Palopo itu, justru melihat kelas sosial saya setara dengan kelas sosial tukang becak, sehingga menunjukkan sikap arogan dan sinismenya pada saya dan tidak harus diberikan kesempatan untuk menemui Pak Sekda,” tutur Bang Ories sembari berseloroh.

Menurutnya, bahwa Sekda Palopo itu orang baik, jadi arogansi pelayanan Asprinya itu yang sangat perlu disoroti. “Sepanjang diri saya melakoni profesi sebagai aktivis LSM, maka baru kali ini saya diperlakukan sangat diskriminatif dalam sebuah sistem pelayanan publik, apalagi di kampung sendiri,” kata Bang Ories.

“Sepertinya jauh lebih mudah menemui Pak Walikota dan para jenderal di Mabes Polri/TNI serta pejabat tinggi pusat lainnya, dari pada menemui Sekda Palopo, lantaran adanya perlakuan pelayanan bersifat diskriminatif yang diberikan Aspri Sekda tersebut,” keluhnya.

Kembali ia menambahkan, saya menemui Pak Sekda, karena atas petunjuk Pak Walikota. “Saya inikan paling jarang menemui pejabat, jika tidak ada hubungannya dengan kepentingan pelayanan di pemerintahan,” tandas Direktur Eksekurif Aktivis Pembela Arus Bawah tersebut.

Adapun berita ini, maka juga akan dirilis pada media cetak Tabloid SAR edisi 01-15 Februari 2020. Sambil menunggu tanggapan dari berbagai kalangan, atau klarifikasi dari pihak Pemerintah Kota Palopo yang terkait. (Redaksi).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed