oleh

PB IPMR dan SRMD Pertanyakan Legalitas Tambang Emas di Rampi

LUTRA, Tabloid SAR – Sejumlah aktivis menyoroti aktivitas pertambang emas di Gunung Pehulenu’a, Desa Onondowa, Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel).

Aktivitas pertambangan emas yang menggunakan alat berat excavator dan zat kimia seperti Sianida (CN) dan Mercuri atau Air Raksa (Hg) tersebut, sudah mengelolah lahan sekitar 1,5 hektar di Gunung Pehulenu’a.

Penambangan emas yang diduga ilegal itu, sudah beroperasi sejak awal Februari 2021.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun media ini menyebutkan, tambang emas yang diduga tidak mengantongi izin sesuai dengan regulasi aturan perundang-undangan tersebut, dikelolah H. Muhammad Arsad dan H. Pudding bekerjasama dengan Tokoh Adat Desa Onondowa dan Tokoh Masyarakat Desa Onondowa.

Para penambang di Gunung Pehulenu’a, melakukan proses penambangan dengan menggali material menggunakan excavator, kemudian dilarutkan menggunakan bahan kimia seperti sianida dan mercuri di lokasi yang dulunya digunakan masyarakat Onondowa sebagai lahan peternakan sapi dan kerbau.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Rampi (PB IPMR), Ramon Dasinga membenarkan adanya aktivitas pertambangan emas di Gunung Pehulenu’a, Desa Onondowa, Kecamatan Rampi, Kabupaten Lutra.

“Sejak awal Februari 2021 lalu, aktivitas pertambangan emas di Gunung Pehulenua’a mulai beroperasi. Mereka mengeruk material dengan menggunakan alat berat excavator. Material yang mengandung emas itu, kemudian mereka masukkan kedalam sebuah wadah mirip kolam yang dialas dengan terpal, lalu dilarutkan menggunakan zat kimia,” kata Ramon saat dikonfirmasi Wartawan Tabloid SAR, Sabtu (08/05/2021).

Menurut, Ramon sampai hari ini, pihaknya belum mengetahui pasti, apakah penambang emas yang ada di Desa Onondowa itu, memiliki izin resmi dari pemerintah sesuai dengan aturan dan regulasi yang ada atau tidak.

“Sampai saat ini, kami belum tau persis mengenai legalitas para penambang di Desa Onondowa itu. Kami baru tahu mengenai hal itu saat, H. Arsad bersama H. Pudding dan Tokey Rampi Paulus Sigi, serta Pak Darwis yang mantan Kepala Pos Polisi di Rampi, datang berkunjung ke Sekretariat PB IPMR di Jalan Pongsimpin, Kota Palopo, beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Saat mereka datang di sekretariat kami, kata Ramon, mereka meminta persetujuan kami (IPMR) agar mereka bisa melakukan penambangan di Gunung Pehulenu’a.

“Mereka saat itu, menjelaskan tujuan penambangan tersebut, tak lain untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Desa Onondowa. Dan hasil penambangan emas itu, nantinya akan digunakan untuk pembangunan fisik dan non fisik di Desa Onondowa. Termasuk, nanti hasilnya akan digunakan untuk mensubsidi biaya sekolah dan biaya kuliah pelajar serta mahasiswa asal Rampi,” katanya.

Tampak kolam peleburan emas (lihat tanda panah warna biru) di lokasi tambang emas yang diduga ilegal di Gunung Pehulenu’a, Desa Onondowa, Kecamatan Rampi, Kabupaten Lutra. Kolam tersebut, tempat menyiram material menggunakan bahan kimia untuk meleburkan emas dari bebatuan yang mengandung emas bercampur tanah.

Kendati demikian, sambung Ramon, saat itu IPMR tidak menyetujui permintaan H. Arsad dan kawan-kawannya.

“Waktu itu, kami tidak langsung menyetujuinya. Kami sarankan kepada mereka (H. Arsad, dkk) untuk terlebih dahulu mensosialisasikan niat mereka kepada warga Kecamatan Rampi pada umumnya dan bagi warga Desa Onondowa khususnya. Sembari menyarankan mereka untuk mengurus segala perizinan yang dibutuhkan sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku,” tandasnya.

Selain itu, Ramon menegaskan bahwa PB IPMR bersama dengan sejumlah organisasi dan LSM, akan melaporkan aktivitas pertambangan tersebut, jika belum mengantongi izin resmi dari pemerintah.

“Sebagai putra daerah asal Rampi dan selaku PB IPMR, kami tentunya akan melaporkan para penambang emas di Desa Onondowa, jika mereka tidak memiliki izin resmi dari pemerintah, sesuai ketentuan yang ada,” tegasnya.

Sementara itu, Yonas Wetu dari Serikat Rakyat Miskin Demokratik (SRMD) menerangkan bahwa pihaknya sudah melihat langsung aktivitas pertambangan emas yang ada di Desa Onondowa.

“Saya sudah melihat langsung proses pertambangan emas yang ada di Desa Onondowa karena lokasinya tak jauh dari rumah orangtua saya yang masih berada di wilayah Desa Onondowa,” sebut Yonas saat dikonfirmasi.

Yonas menambahkan, berdasarkan informasi dan data yang ada, H. Arsad dan H. Pudding dalam pertambangan emas di Gunung Pehulenu’a Desa Onondowa, bertindak selaku penanggungjawab dan pemodal untuk membiayai tambang tersebut.

“Setahu kami, H. Arsad dan H. Pudding selaku penanggungjawab dan pemodal di pertambangan itu. Mereka bekerjasama dengan para tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat,” terangnya.

Alat berat jenis excavator yang beroperasi di lokasi tambang emas di Gunung Pehulenu’a, Desa Onondowa, Kecamatan Rampi, Kabupaten Lutra. Berdasarkan informasi, excavator tersebut adalah milik oknum Anggota DPRD Lutra berinisial HD.

Lebih lanjut, Yonas mengungkapkan, pihaknya berharap pemerintah dan aparat penegak hukum segera menghentikan aktivitas pertambangan yang ada di kampung halamannya (Desa Onondowa).

“Kami berharap agar pemerintah dan aparat penegak hukum, bisa segera menghentikan aktivitas pertambangan emas yang ada di desa kami. Karena sejauh ini, kami meyakini bahwa mereka belum memiliki izin sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku,” ungkapnya.

Yonas kuatir, jika aktivitas pertambangan ilegal di desanya tidak segera dihentikan, bisa membawa malapetaka di kemudian hari bagi masyarakat Desa Onondowa maupun warga sekitarnya.

“Kalau tambang emas yang masih illegal itu, terus beroperasi dan tidak segera dihentikan, kami sangat kuatir bisa berdampak buruk bagi masyarakat bahkan dapat menjadi sumber malapetaka nantinya. Karena tambang legal saja yang memiliki izin resmi sesuai aturan yang ada, terkadang masih menjadi sumber malapetaka. Apa lagi mengeruk gunung dan menggunakan bahan kimia yang berbahaya bagi manusia dan ternak atau habitat yang ada dilingkungan sekitarnya,” kuncinya.

Penulis : Tim Redaksi

Editor : William Marthom

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed