oleh

Menelusuri Jejak Rekam Peradaban Mitos Kama’dikan Langi, Kec Bastem, Kab Luwu, Sulsel

Miliki Potensi Wisata yang Masih Tersembunyi di Balik Indahnya Panorama Alam Pegunungan

ADAPUN Kecamatan Basse Sangtempe (Kec Bastem), Kabupaten (Kab) Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), tidak hanya kaya dengan tatanan budaya dan adat istiadatnya. Akan tetapi juga memiliki keragaman sumber daya alam yang sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi tujuan destinasi wisata.

Bahkan di Bastem tersebut, menurut legendanya merupakan simbol peradaban Langi, atau simbol peradaban To Mendewata (dewa) dengan kata lain Mula Tau. Tepatnya pada sebuah kampung purba yang juga disebut Langi di Desa Lange. Pada zamannya, konon menjadi tempat bersinggasana To Mendewata, sebagai pemegang tampuk kekuasaan adat di Langi yang digelar dengan istilah Puang Ma’dika To Mendewatanna Langi.

Baca Juga :

Jadi Langi dalam legendanya merupakan “negeri para dewa”, awalnya merupakan generasi dari Kapuangan Latimojong. Kemudian membangun sebuah tatanan peradabat adat dalam bentuk kedaulatan ma’dika.

Adapun “Latimojong” itu sendiri, merupakan puncak tetinggi di Pulau Sulawesi, menurut cerita rakyat dikenal sebagai asal mula nenek moyang. Sebab “Lati” artinya “asal” dan “Mojong” artinya “Moyang”, maka dapat pula diartikan sebagai “asal mula nenek moyang” yang lebih lazim disebut dengan istilah “Mula Tau”.

Menurut cerita rakyat yang sudah menjadi legenda secara turun temurun, bahwa Langi merupakan sebuah wilayah tatanan adat yang bersifat berdaulat sendiri, dipimpin oleh seorang ma’dika yang disebut Puang Ma’dika To Mendewatanna Langi.

Disebut ma’dika, sebab memiliki pengertian “merdeka” atau bersifat “berdaulat” tanpa di bawah hegemoni sebuah kekuasaan dalam bentuk apapun, dengan kata lain tidak dibawahi oleh kerajaan manapun. Hal itulah, sehingga dalam legendanya dikenal ungkapan, bahwa “Kama’dikan Langi, tang makki taui Datu (Raja) Luwu, tang makki tanai Arung Pone (Raja Bone)”.

Di mana peradaban purba Kama’dikan Langi adalah juga disebut dengan istilah Langi na Tabang. Hal tersebut, mendasari legenda, bahwa Tabang yang dikenal sebagai salah satu simbol To Manurung ri Langi, makanya disebut pula dengan istilah Puang To Manurung ri Tabang.

Jadi Puang To Manurung ri Tabang yang sangat didewakan tersebut, bukan benar-benar berasal dari langit. Akan tetapi pada dasarnya berasal dari Kama’dikan Langi Purba. Begitupun halnya Puang Tori A’adok, bernama Siman Kilo adalah juga berasal dari Kama’dikan Langi.

Bahkan Lakipadada Jolo saat pergi mencari ilmu tuo tang mate (kehidupan abadi) disebut-sebut berangkat dari sebuah sungai yang disebut Salu Borrong di Langi. Tokoh sakti ini, menurut legendanya digelar pula dengan istilah “Arung Langi”.

Mengenai istilah Arung Lagi, mungkin adalah semacam “maha patih/palima perang” pada zamannya. Sebab konon Lakipadada Jolo sudah menjelajah sampai mengarungi lautan, ketika mencari ilmu kehidupan abadi demi untuk menyangga kekuasaan “Puang Ma’dika To Mendewatanna Langi”. Hal itulah, sehingga digelar “Arung Langi” maka disebut pula dengan istilah “Sangga Langi”.

Pasalnya, bahwa pada zaman itu sedang mewabah penyakit yang sangat mematikan di Langi. Hal itulah, maka Lakipadada Jolo sampai pergi mencari ilmu tentang kehidupan abadi, tak lain untuk melindungi tahta mitos “Puang Ma’dika To Mendewatanna Langi” dari kematian tapi mengalami kegagalan.

Pada saat itulah, lalu dibuatlah erong atau bangka untuk dijadikan sebagai kuburan para penguasa tahta mitos di Langi secara turun-temurun. Tujuannya, untuk dijadikan sebagai simbol penyembahan terhadap Puang Ma’dika To Mendewannta Langi, menurut ajaran-ajaran aluk to jolo.

Erong atau bangka di Langi, merupakan kuburan warisan peradaban purba yang sudah membatu, sehingga dapat dikembangknan menjadi obyek wisata budaya dan ilmiah bagi penelitian para arkeolog untuk membuka tabir misteri peninggalan Kama’dikan Langi tersebut.
.

Hal itulah pada setiap pesta kematian tersebut, sehingga dipotongkan pula sepasang budak terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan, untuk dikubur bersama tuannya dalam erong yang saling terpisah. Maksudnya, agar budak laki-laki dapat mengawal tuannya dan budak perempuan dapat pula melayani tuannya, dalam perjalanannya menuju surga yang disebut dengan istilah puya.

Sedangkan mengenai adanya Lakipadada yang didebut-sebut sebagai tokoh mitos di Toraja, Tallu Lembangnna. Menurut legenda Langi disebut Lakipadada Undi, awalnya berangkat dari Batu Borrong di Kumila, Desa Sinaji, Kec. Bestem. Ia pun pergi mengembara untuk juga mencari ilmu kehidupan abadi, seperti leluhurnya bernama Lakipadada Jolo tersebut.

Pada zamannya, Kuli Kilak pernah pula menjadi Arung Langi untuk menyangga simbol kedaulatan tahta mitos Ma’dika Langi. Konon tokoh mitos yang satu ini mampu berinteraksi dengan alam gaib dan terbang seperti kilat di udara, sehingga dinamai Kuli Kilak. Akan tetapi ketika meninggal dunia, mayatnya sudah tidak dimaksukkan ke dalam erong namun dikemumikan di Lebusan.

Boleh jadi legenda tentang turunnya tokoh – tokoh mitos dari Langit, seperti To Manurung, sebagaimana disebut-sebut sebagai “manusia dewa” dalam cerita rakyat secara turun-temurun. Pada dasarnya berasal kampung purba yang disebut Langi ini. Sebab hanya Nabi Adam dan Hawa yang diturunkan dari surga (langit firdaus) ke dunia, akibat melanggar perintah Tuhan.

Fakta-fakta yang dapat dijadikan sebagai referensi rujukan, terhadap rekam jejak Kama’dikan Langi sebagai warisan peradaban purba, mengenai adanya erong di Langi, tepatnya di Desa Lange, Kec Bastem tersebut. Konon erong tersebut merupakan kuburan manusia dari semenjak peradaban purba dan disebut-sebut telah berumur ribuan tahun.

Restorasi Peradaban Tatanan Adat Langi

Pada suatu masa, maka terjadi proses restorasi terhadap peradaban tatanan adat pada Kapuangan Kama’dikan Langi, saat di bawah kepemimpinan Puang Ma’dika Wangloan yang berkedudukan di Andulan. Hal tersebut, lantaran Kama’dikan Langi berkedudukan di Andulan, maka tatanan peradaban adat tersebut, sehingga juga disebut dengan nama Kama’dikan Anduluan.

Saat terjadi proses restorasi adat kapuangan di Langi, kemudian ditandai atas dibentuknya tatanan adat “A’pak Borongna Langi Na Puganna Lima Andulan Kande Tawana”, terkait dengan pendeklerasian pembentukan tatanan adat kaparengngesan tersebut. Pada dasarnya dilatarbelakangi dengan ketidaksetujuannya terhadap Wangloan sebagai pemangku Ma’dika Langi.

Melalui pendeklerasian yang dicetuskan oleh tiga bersaudara yaitu, Bettu, Pangangnga dan Beke, beserta para penghulu adat di Langi pada zamannya. Akhirnya terbentuk Kaparengngesan Lebusan, Kaparengngesan Ojo atau lazim pula disebut Tongkonan Banua Sura’na Langi ri Ojo, Kaparengngesan Tangke dan Kaparengngesan Bamba serta Kaparengngesan Andulan kande Tawana.

Kala itu, kama’dikan dikembalikan untuk berkedudukan di Langi, sebab Andulan sudah berstatus sebagai kaperengngesan. Selaku Parengnge Lebusan Pertama adalah Bettu sebagai kakak, diberi gelar dengan istilah To Toi Palapana Langi atau mungkin semacam perdana menteri, sebab untuk menghormati statusnya sebagai kakak.

Sedangkan Pangangnga, sebagai Parengnge Pertama Ojo, diberi gelar dengan istilah To Tangdirondonna Langi dan juga digelar Puang Tanduk Langi, atau mungkin semacam panglima perangnya Langi. Namun Beke selaku adik bungsu, menuju ke Maindo untuk membentuk tatanan peradaban adat sendiri.

Adapun kedua kaparengngesan lainnya, yaitu Tangke dan Bamba, hanyalah sebatas tongkonan, sebab tidak memiliki wilayah dan juga berkedudukan di Ojo.

Kendati demikian, akan tetapi memiliki fungsi yang besifat strategis, jika pemangku Kaparengngesan Tangke adalah menangani penyelenggaraan tatanan adat  yang digelar dengan istilah Tangke Toi Alukna Langi, atau semacam menteri dalam negeri.

Sedangkan pemangku Kaparengngesan Bamba adalah menangani tatanan kehidupan ekonomi, digelar dengan istilah Bamba Toi Katuan Tangkilulunna Langi, atau semacam menteri perekonomian.

Lain halnya dengan Wangloan, akibat tidak puas dengan pendeklerasian terhadap pembentukan A’pak Borongna Langi Na Puganna Lima Andulan Kande Tawana tersebut, akhirnya memilih pergi ke Babang di Larompong untuk membentuk Ma’dika Sitodon.

Kepergiannya untuk membentuk Ma’dika Sitodon di Babang tersebut, kemudian digantikan oleh Rumpak sebagai pemangku Puang Ma’dika Langi. Namun kemudian terjadi pengosongan di Langi, sehingga Rumpak berpindah untuk berdomisili di Papolo. Ketika meninggal dunia, maka Rumpak pun digelar dengan istilah To Matindoi Papolo.

Namun demikian, pemangku Kaparengngesan Andulan adalah juga memiliki fungsi yang bersifat strategis dalam sistem tatanan adat Kama’dikan Langi, dengan gelar To Ma’lambanna Langi, atau semacam diplomat dengan kata lain menteri luar negeri.

Sebab-sebab terjadinya pengosongan di Langi tersebut, lantaran adanya penyerbuan dari pasukan Kerajaan Majapahit. Akibatnya perang hebatpun terjadi pada salah satu sungai yang saat ini disebut Salu Mararin.

Konon awalnya disebut “Salu Ma’rari” artinya “sungai tempat berperang”. Untuk menghilangkan kesan angker pada sungai tersebut, kemudian sungai itu dinamai Salu Mararin.

Kala terjadi perang hebat tersebut, membuat banyak warga yang bergerilya atau eksedus dari Langi, sampai pergi mencari perkampungan baru yang lebih aman pada sejumlah daerah. Hal inilah, sehingga terdapat kampung yang disebut Langi baik di Toraja maupun di Luwu serta daerah lainnya.

Selanjutnya, bahwa ada juga namanya Kama’dikan Karruk di Ojo dan Kama’dikan Sapuko di Ojo. Maksudnya, bahwa Kama’dikan Langi pernah pula berkedudukan di Karruk dan Sapuko dan lain-lainnya. Tergantung di mana tempat lokasi atau kampung tempatnya pemangku Ma’dika Langi berkedudukan menurut fase-fase zamannya.

Jadi mengenai posisi “A’pak Borongna Langi Na Puganna Lima Andulan Kande Tawana”, merupakan sebuah tatanan wilayah adat yang bersifat berdaulat penuh, tidak masuk dalam tatanan wilayah adat Sembang Kada Kanna atau Balimbing Kalua Bolu dalam struktur penyelenggraan kekuasaan adat “Banua A’pak Tongkonan Annan Pulona”. Namun tetap menjadi bagian dari tatanan wilayah adat Basse Sangtempe.

Hanya saja pada era penjajahan Belanda, Kama’dikan Langi dihapus, selaku pemangku ma’dika terakhir bernama Balajuk. Dihapusnya kama’dikan tersebut, lantaran pesta adat kematiannya yang nilai sangat ektrim. Sebab harus pula menyembelih dua orang budak, masing-masing satu orang lak-laki dan satu orang perempuan, untuk dikuburkan bersama tuannya.

Bangsawan terakhir di Kama’dikan Langi dengan cara disembelihkan dua orang budak secara berpasangan tersebut, yakni Sanda Sirrin di Kaparenggesan Ojo pada era penjajahan Belanda. Hal itulah, sehingga Kama’dikan Langi dihapus, sebab dipandang sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran agama Kristen yang dibawah oleh pihak misionaris Belanda tersebut.

Kembali pada pengertian tentang ungkapan “Kama’dian Langi, tang makkitaui Datu (Raja) Luwu, tang makki tanai Arung Pone (Raja Bone)”. Mungkin artinya bahwa “Penguasa Adat Langi, tidak berada di dalam wilayah Kerajaan Luwu dan tidak pula di bawah kekuasaan Raja Bone”.

Hal tersebut, karena pada zamannya baik Kerajaan Luwu maupun Kerajaan Bone, merupakan kerajaan terbesar di Sulsel pada zamannya yang paling dekat dengan Kama’dikan Langi.

Namun justru kekuasaan Kama’dikan Langi memiliki tanah di Bone dan juga disebut tanah Langi, sebagai bentuk penghargaan kepada To Barani dari Langi yang dipimpin oleh panglima perang yang disebut Puang Sangga Langi, saat berhasil membebaskan Kerajaan Bone dari serangan musuh. Bahkan Kerajaan Luwu pun, menurut legendanya, pernah pula dibantu oleh Puang Sangga Langi,

Di mana tanah Langi di Bone tersebut, saat ini juga sudah menjadi nama sebuah desa yang disebut Desa Langi, di wilayah Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Provinsi Sulsel.

Adapun pembentukan kaparenggesan di Kama’dikan Langi, namun justru lebih duluan dari pada pemebentukan Banua A’pak Tongknan Annan Pulona yang disebut-sebut dideklerasikan oleh Puang Sangga Langi.

Pertanyaannya, lalu kenapa Desa Lange tidak disebut Desa Langi. Jawabnya, sebab istilah Langi adalah simbol peradaban para dewa atau To Mendenwata. Sedangkan Lange merupakan simbol peradaban To Mallino atau umat manusia.

Menyimpan Keragaman Potensi Wisata

Pada suatu kesempatan, media ini sempat berdialog panjang dengan Parengnge Lebusan, Mathius Kombo. Menuturkan bahwa peradaban purba Langi, merupakan simbol peradaban Mula Tau di Basse Sangtempe khususnya dan Toraja pada umumnya.

Hal yang dapat dijadikan sebagai referensi petunjuk, kata Mathius, tentang mengenai adanya kuburan purba yang disebut erong di Langi dan diperkirakan sudah ada dari semenjak ribuan tahun yang lampau.


Parengnge Lebusan, Mathius Kombo saat diwawancai awak media Tabloid SAR tentang jejak rekam peradaban Kama’dikan Langi dan potensi-potensi wisata di Desa Langi, Kec Bastem, Kab Luwu.

“Hal ini membuktikan bahwa nenek moyang kita dari Langi, sudah memiliki kebudayaan dan tatanan adat yang sifatnya berdaulat penuh. Bahkan justru menjadi sumber kebudayaan bagi peradaban lain di sekitarnya, seperti Toraja,” tutur Parengnge Lebusan tersebut.

Menurutnya, bahwa tatanan wilayah adat A’pak Borongna Langi Na Puganna Lima Andulan Kande Tawana, sama sekali tidak masuk dalam tatanan wilayah adat Banua A’pak Tongkonan Annan Pulona Basse Sangtempe. Akan tetapi tetap menjadi bagian dari tatanan wilayah adat Basse Sangtempe’ sebagaimana halnya Rante Balla dan Ulu Salu di Kec Latimojong.

Namun perlu dipahami, lanjut Mathius menjelaskan, mengenai tatanan wilayah adat anan pulona tongkonan di Banua A’pak Basse Sangtempe, bahwa istilah tongkonan tidak selamanya identik dengan keberadaan kaparengngesan.

Air terjun Sarasa To Pangangnga di Ojo Desa Lange, Kec Bastem, memiliki debit air yang sangat mendukung sehingga menampakkan eksotisnya air terjun yang tersembunyi di balik alam yang masih sangat perawan. Kru Tabloid SAR pernah mandi di kolam air terjun tersebut.

Lanjut ia menuturkan, saya inikan juga orang Kanna dan orang Bolu, jadi lima belas tongkonan di Sembang Kada Kanna dan lima belas tongkonan di Balimbing Kalua Bolu tidak semuanya identik dengan kaparengngesan. “Jadi sangat keliru, jika setiap tongkonan adalah harus pula disebut menjadi tempat berkedudukan To Parengnge, sebab To Makaka juga berkedudukan di tongkonan,” ucapnya.

Di Langi ini juga terdapat beberapa tongkonan, sambungnya, antara lain Papolo yang digelar dengan istilah Tongkonan Puang To Matindoi dan Pawele yang digelar dengan istilah Tongkonan Puang To Tumbang serta lain-lainya. “Tapi semua itu tetap dihormati kedudukannya sebagai bagian dalam struktur adat A’pak Borongna Langi Na Puganna Lima Andulan Kande Tawana,” kata Mathius.

“Adapun kesemua tongkonan tersebut, sebab pernah menjadi simbol peradaban kedaulatan Kama’dikan Langi, menurut fungsinya masing-masing pada setiap zamannya,” ungkapnya.

Parengenge Lebusun lanjut mengemukakan, bahwa A’pak Borongna Langi Na Puganna Lima Andulan Kande Tawana, sama sekali tidak menjadi bagian dari wilayah adat Sembang Kada kanna atau Balimbing Kalua Bolu.

Tampak air terjun yang disebut Sarasa To Ballan di Dusun Pasang, Desa Lange, merupakan salah satu air terjun dari sejumlah air terjun yang terdapat di Kec Bastem. Potensi obyek wisata yang sangat menajubkan dan masih sangat tersembunyi di balik alam perawan. Akan dibuka akses jalannya oleh pihak Pemerintah Desa Lange pada tahun 2021 ini.

Jadi janganlah mengklaim diri sebagai Sembang Kada Kanna, kata Mathius lagi, jika memasukkan A’pak Borongna Langi Na Puganna Lima Andulan Kande Tawana, sebagai bagian dalam wilayah adat Sembang Kada Kanna. Begitupun juga bagi pihak yang mengklaim diri sebagai Balimbing Kalua Bolu. “Kami di Langi ini tidak mau menjadi pelangkap adat terhadap Sembang Kada Kanna atau Balimbing Kalua Bolu,” terangnya.

Parengnge Lebusan lanjut menyampaikan, bahwa di Desa Lange ini, memiliki keragaman potensi wisata untuk dapat dikembangkan. Seperti keindahan alam pegunungan dan sejumlah air terjun. Termasuk obyek wisata budaya berupa erong di Langi, sebagai bentuk kuburan tua dari semenjak nenek moyang kita. “Bahkan erong di Langi tersebut, justru jauh lebih tua daripada erong yang paling dianggap tertua di Toraja sekalipun,” tukasnya.

Harapannya agar pihak Pemerinah Kabupaten Luwu dapat membuka akses jalan ke kampung purba di Langi, untuk mengembangkan obyek wisata erong tersebut. “Jika itu dapat dikembangkan, maka erong itu dapat dijadikan sebagai salah satu obyek wisata budaya. Sekaligus menjadi obyek wisata ilmiah bagi para arkaelog, untuk penelitan mengenai rekam jejak peradaban purba di Langi tersebut,” ucap Mathius lebih lanjut.

Benteng warisan peradaban purba Kama’dikan Langi, dapat pula menjadi salah satu obyek wisata.

Selain itu, tambahnya, ada juga benteng tua di Langi yang dapat pula dikembangkan menjadi obyek wisata. “Terkhusus lagi, apabila erong di Langi nantinya dapat dikembangkan menjadi obyek wisata ilmiah bagi para arkaelog, sehingga diharapkan dapat mengungkap warisan tentang misteri peradaban purba di Langi,” pungkas Parengnge Lebusan tersebut.

Beberapa waktu lalu, kru Tabloid SAR sempat mengunjungi sejumlah air terjun di Desa Lange yang sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi obyek wisata. Apalagi sangat didukung dengan debit airnya yang cukup besar.

Sumber-sumber yang dihimpun dari masyarakat setempat, bahwa di Desa Lange ini, terdapat pula sejumlah gua untuk dapat pula dikembangkan sebagai obyek wisata. Termasuk adanya batu Candi yang sangat besar di Motok di Ojo, untuk dapat menikmati indahnya alam pegunungan Basse Sangtemope. (Redaksi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed