oleh

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Belopa, Vonis Bebas Terdakwa Kasus Pembunuhan

LUWU, Tabloid SAR – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Belopa, vonis bebas terdakwa Tomas Tatok Alias Bapak Nining Bin Mangayun yang diadili sebagai pelaku pembunuhan, Maria Kawa di Dusun Pintoe, Desa Buntu Babang, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Selasa, 19 Februari 2019 lalu.

Terdakwa kasus pembunuhan tersebut, divonis bebas oleh Majelis Hakim PN Belopa yang diketuai oleh Wahyu Hidayat SH bersama Leonardus SH dan Yohanes Richard Tri Arichi SH, masing-masing sebagai anggota. Sidang putusan terdakwa, Tomas Tatok digelar pada Rabu, 28 April 2021 lalu di PN Belopa.

Dalam amar putusan yang dibacakan Majelis Hakim PN Belopa meyebutkan mengadili, menyatakan terdakwa Tomas Tatok Alias Bapak Nining Bin Mangayun, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan tunggal Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Membebaskan terdakwa dari dakwaan Penuntut Umum. Memerintahkan terdakwa dibebaskan dari tahanan segera setelah putusan ini diucapkan. Memulihkan hak-hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan, harkat, serta martabatnya,” ucap Ketua Majelis Hakim PN Belopa, Wahyu Hidayat SH, saat membacakan amar putusan perkara pidana Nomor : 150/Pid.B/2020/PN.Blp, Rabu (24/04/2021).

Selain itu dalam amar putusan tersebut, Majelis Hakim PN Belopa juga menetapkan sejumlah barang bukti yang diajukan dalam perkara pidana itu, untuk dikembalikan kepada keluarga korban pembunuhan, Maria Kawa.

“Menetapkan barang bukti berupa, 1 buah gayung, 1 lembar handuk, 1 lembar lap tangan, 1 lembar dasi, 1 lembar plastic pembungkus buku, kertas kwitansi bukti pembayaran, dan 1 buah korek api. Dikembalikan kepada pihak keluarga korban Maria Kawa,” kata Wahyu Hidayat.

Selain memerintahkan penyerahan sejumlah barang bukti kepada keluarga korban pembunuhan, dalam amar putusannya, Majelis Hakim PN Belopa juga memerintahkan pengembalian barang bukti kepada terdakwa Tomas Tatok.

“Menetapkan barang bukti berupa, satu lembar celana pendek warna hitam, dan satu lembar baju kaos lengan pendek warna merah. Dikembalikan kepada terdakwa,” perintah Majelis Hakim dalam putusannya.

Lebih lanjut, Majelis Hakim PN Belopa dalam putusannya memerintahkan agar sejumlah barang bukti yang diajukan dalam perkara tindak pidana ini untuk dimusnakan.

“Menetapkan barang bukti berupa, 1 buah gagang parang, 1 pasang sandal jepit merk Swallow warna ungu, 1  buah puntung rokok merk SPORT, 5 buah swab bercak darah pada pembuka laci dan laci lemari yang diambil dalam rumah korban Maria Kawa, 2 buah sampel bucal swab, 1 buah sampel darah kering pada kain kassa. Dirampas untuk dimusnahkan,” tegas Majelis Hakim PN Belopa dalam putusannya, sembari menyebutkan, membebankan biaya perkara kepada negara.

Terkait putusan tersebut, Tim Penasehat Hukum terdakwa Tomas Tatok dari Kantor Advokat AB&P Law Firm – Makassar, Viani Octavius SH MH mengatakan putusan bebas (vrisjpraak) terhadap kliennya, selaras dengan harapan mereka selaku tim penasehat hukum terdakwa Tomas Tatok.

“Putusan bebas terhadap klien kami, selaras dengan harapan dan keyakinan kami. Bahkan kami berharap, setelah selesainya persidangan dengan agenda pemeriksaan alat bukti, JPU (Jaksa Penuntut Umum) akan berani melakukan langkah hukum yang benar dan berkeadilan untuk menuntut bebas klien kami,” kata Viani saat dikonfirmasi wartawan Tabloid SAR, Senin (03/05/2021).

Namun hal itu, sambung Viani, tidak dilakukan oleh JPU karena gagal memahami hasil pemeriksaan identifikasi DNA dan fakta persidangan yang ada setelah agenda pembuktian, karena JPU tetap menuntut klien kami  dengan pidana penjara selama 10 tahun.

“Sementara secara nyata dan jelas, tidak didukung oleh adanya minimal dua alat bukti sebagaimana diatur dalam Pasal 183 KUHAP. Semua alat bukti yang ada, bahkan tidak memiliki nilai pembuktian yang sempurna secara hukum dan saling bertautan untuk dijadikan dasar adanya vonis sebagaimana harapan JPU pada tuntutan hukumnya,” tambahnya.

Sementara itu, Agustinus Bangun SH MH yang juga salah satu anggota Tim Penasehat Hukum terdakwa Tomas Tatok dari Kantor Advokat AB&P Law Firm – Makassar, mengapresiasi Majelis Hakim PN Belopa yang memeriksa dan mengadili perkara yang mendudukkan Tomas Tatok sebagai terdakwa tindak pidana pembunuhan, Maria Kawa.

“Putusan bebas terhadap klien kami, tidak lepas dari kapasitas dan kemampuan Majelis Hakim. Meski mereka (Majelis Hakim) masih sangat mudah, namun objektifitas, kemandirian dan integritas, serta kompetensi ilmu hukum yang mereka miliki, sungguh luar biasa dalam memutus bebas klien kami,” ujar Agustinus.

Hal ini, kata Agustinus, memberi angin segar akan lahirnya hakim-hakim muda Indonesia yang siap menerima tongkat estafet kepemimpinan lembaga peradilan di Indonesia untuk mewujudkan lahirnya gerakan law enforcement pembangunan hukum yang selain bermanfaat, juga memberi kepastian dan berkeadilan hukum.

“Sehingga mampu membawa marwah pengadilan menjadi lembaga penegakan hukum yang semakin terhormat dan berwibawa bagi para pencari keadilan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Agustinus menjelaskan, bahwa kemandirian dan integritas Majelis Hakim PN Belopa yang memvonis bebas terdakwa Tomas Tatok, ditunjukkan dengan sikap tidak terpengaruh dengan adanya tekanan-tekanan dari pihak manapun.

“Majelis Hakim PN Belopa yang menangani perkara klien kami, tidak terpengaruh sama sekali, meski mereka ditekan dengan adanya aksi unjukrasa dari sejumlah orang pada saat sidang putusan berlangsung. Majelis Hakim tetap menuangkan kebenaran dalam putusan yang memberi kepastian dan keadilan hukum bagi Pak Tomas Tatok,” jelasnya.

Agustinus berharap putusan bebas ini, bisa menjadi pintu masuk penyidik Polres Luwu untuk mengungkap siapa sebenarnya pelaku pembunuhan Maria Kawa.

“Dengan bukti hasil pemeriksaan identifikasi DNA pada handuk, kain lap, dasi dan swab bercak darah yang dijadikan alat bukti dalam persidangan terdakwa Tomas Tatok. Bisa menjadi pintu masuk penyidik Polres Luwu untuk membongkar siapa dalang pembunuhan itu,” tandasnya.

Untuk diketahui, Dedy Nurjatmiko SH MH dan Ady Haryadi Annas SH MH selaku JPU dari Kejaksaan Negeri Luwu, menuntut supaya Majelis Hakim PN Belopa yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan, menyatakan terdakwa Tomas Tatok Alias Bapak Nining Bin Mangayung telah terbukti secara sah bersalah melakukan tindak pidana.

“Terdakwa telah terbukti secara sah bersalah, dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 Kitab Undang – undang Hukum Pidana yang kami dakwakan tersebut. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tersebut, berupa pidana penjara selama 10 tahun,” kata Dedy saat membacakan tuntutannya terhadap terdakwa, Tomas Tatok dalam persidangan di PN Belopa beberapa waktu lalu.

Diketahui pula, kasus yang mendudukkan Tomas Tatok sebagai terdakwa pembunuhan, Maria Kawa mulai bergulir di Polres Luwu sejak tanggal, 19 Februari 2019. Ia ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polres Luwu pada tanggal, 5 Agustus 2020.

Pada tanggal, 6 Agustus 2020, lelaki paru baya yang berusia 59 tahun tersebut, mulai menjalani penahanan sejak proses penyidikan di Polres Luwu sampai pada penuntutan oleh Kejaksaan Negeri Luwu, hingga pemeriksaan perkara dipersidangan di PN Belopa.

Namun warga Dusun Pintoe, Desa Buntu Babang, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu itu, beruntung karena setelah ditahan selama delapan bulan lebih, Majelis Hakim PN Belopa yang diketuai oleh Wahyu Hidayat SH bersama Leonardus SH dan Yohanes Richard Tri Arichi SH, masing-masing sebagai anggota, memvonis bebas tedakwa Tomas Tatok pada Rabu, 28 April 2021 lalu di PN Belopa.

Sebagai informasi, selama menjalani proses pemeriksaan perkara pidana dalam persidangan di PN Belopa, terdakwa Tomas Tatok didampingi oleh 6 orang advokat atau pengacara dari Kantor Advokat AB&P Law Firm – Makassar. Keenam advokat tersebut, yakni Agustinus Bangun SH MH, Viani Octavius SH MH, Kristianus W Edyson SH, Maxzimilianus S Sule SH, Holzer Dwi Sario SH, dan Muh Taing SH.

Hingga berita ini dipublikasikan, belum diketahui pasti apakah JPU Kejaksaan Negeri Luwu yang mendakwa Tomas Tatok, akan mengajukan upaya kasasi ke Mahkamah Agung atas putusan bebas yang dijatuhkan Majelis Hakim PN Belopa terhadap terdakwa Tomas Tatok.

Penulis : William Marthom

Editor : Zottok

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed