oleh

Komunitas Milla Abraham Resahkan Warga  Dusun Dandawasu di Luwu Timur

 

Datu Luwu : Saya Tidak Pernah Buat “Surat Rekomendasi Tanah” pada Komunitas Tersebut

 

Baca Juga :

LUWU TIMUR, NewstabloidSAR.com – Sebagaimana dilansir dari berita online Wikipedia, bahwa komunitas Milla Abraham ini dulunya bernama Gafatar dan juga memiliki nama bermacam-macam lainnya. Lantaran diduga mengajarkan kepercayaan yang dianggap menyimpang dari Agama Islam, akibatnya ditolak di mana-mana.

Namun belakangan ini, bahwa kehadiran komunitas Milla Abraham yang diduga beraliran sasat tersebut, sepertinya mulai meresahkan warga  di Dusun Dandawasu, Desa Parumpanai, Kecamataan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur.

Pasalnya, komunitas Milla Abraham diduga menggunakan rekomandesi palsu Datu Luwu, untuk bermaksud menguasai tanah adat yang sudah diserahkan Mantan Ketua DPRD Luwu Timur, almarhum Andi Hasan untuk dikelola warga di Dusun Dandawasu ini.

Begitu rilis mitra investigasi Aktivis Pembela Arus Bawah yang diterima media ini, Kamis (10/9/2020). Dimana LSM ini, memperoleh pengaduan dari warga Dusun Dandawasu beberapa waktu lalu, terkait keberadaan beberapa orang yang mengaku dari komunitas Milla Abraham yang meresahkan warga di daerah tersebut.

Kepala Dusun Dandawasu, Ismail Pasingki rupanya juga didatangi beberapa orang yang menyebut tergabung dalam komunitas Milla Abraham, salah satunya mengaku bernama Hasbi. Sembari menunjukkan surat rekomendasi dari Datu Luwu, bermaksud memanfaatkan tanah adat Kedatuan Luwu untuk tujuan program ketahanan pangan.

“Kami sudah liat surat itu, isinya berupa rekomendasi dari Datu Luwu kepada Milla Abraham. Namun kami sangat heran, sebab dalam isi surat itu tidak menyebutkan secara jelas mengenai titik lokasi tanah adat dimaksud,”tutur Ismail Pasingki.

Lanjut ia menyampaikan, apa iyyah mereka dari komunitas Milla Abraham tersebut, benar mendapat surat rekomendasi dari Datu Luwu. “Jadi kami sangat meragukan surat rekomendasi Datu Luwu tersebut,” ucapnya.

Menurutnya, bahwa sudah ada tiga warga kami yang melaporkan ajaran ini. Bahkan warga kami juga sudah diminta mengikuti ritual yang mereka ajarkan dengan cara dibaiyat oleh salah satu anggota Milla Abraham bernama Hasbi dan bantu beberapa kawannya.

“Saat warga kami itu dibayyat dengan cara berdiri membentuk lingkaran, lalu Hasbi dan kawan-kawannya membacakan ayat-ayat al-quran dan meminta warga mengikutinya. Namun anehnya lagi, sebab mereka justru tidak sholat pada setiap waktu sholat tiba,” beber Ismail Pasingki.

Adapun keberadaan oknum-oknum komunitas Milla Abraham ini, sungguh meresahkan masyarakat di daerah ini. Apalagi mereka berkeinginan untuk menguasai lahan tanah adat di wilayah ini, dengan cara menyelipkan ajaran yang duduga sesat kepada masyarakat.

Ismail Pasingki pun mengaku akan melaporkan keberadaan anggota komunitas ini kepada Pembina dan Baminkantibmas serta Kepala Desa Parumpanai. “Masalah ini akan segera kami laporkan pada pihak aparat dan kepala desa, supaya warga kami tidak menjadi korban ajaran yang diduga sesat tersebut,” pungkas Kepala Dusun Dandawasu ini.

Sementara itu, melalui konfirmasi mitra investigator Aktivis Pembela Arus Bawah dengan Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, justru membantah jika dirinya pernah mengeluarkan surat rekomendasi terhadap pihak komunitas Milla Abraham tersebut.

“Saya gak kenal Milla Abraham itu, saya juga gak pernah buat dokumen (surat rekomendasi tanah) untuk mereka. Terima kasih informasi ta ananda, nanti saya cek kebenarannya,” terang Datu Luwu melalui telepon selulernya.

Menyikapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy menyampaikan bahwa pihak LSMnya siap mengadvokasi warga di Dusun Dandawasu ini dari upaya pembodohan oknum-oknum komunitas Milla Abraham tersebut.

Hal seperti ini tidak boleh terjadi, tutur aktivis LSM tersebut, jadi kita harus menjaga marwah dari Kedatuan Luwu, jangan sampai ada pihak yang mencoba-coba mengatasnamakan kedatuan lalu memiliki tujuan yang besifat pragmatis guna dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

“Inikan akan sangat berpotensi untuk merusak tatanan adat yang sudah ada, dan tentunya merugikan masyarakat juga. Olehnya itu, LSM kami siap mengawal kasus ini hingga tuntas,” tandas aktivis LSM yang akrab disapa Bang Ories tersebut. (Rilis-LSM)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed