oleh

Diwarnai Aksi Demonstrasi Penolakan dari Sekelompok Warga, Sindo’ Christina Titien Sumbu Resmi Jadi Puang Sembang Kada ri Kanna

 Makdika Bua : Pro-Kontra Itu Sudah Merupakan Hal yang Biasa

LUWU, Tabloid SAR – Sindo’ Christina Titien Sumbu secara resmi dipa’toko (dikukuhkan -red) sebagai Puang Sembang Kada ri Kanna, pada Rabu 15 Januari 2020 lalu di Tongkonan Pollo’ Tondok, tepatnya di Anak Dara, Desa Kanna Utara, Kecamatan Basse Sangtempe’ (Bastem), Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Baca Juga :

Kendati diwarnai dengan aksi penolakan dari sekelompok warga, dengan cara memasang spanduk pada sejumlah titik lokasi dan menggelar aksi demonstrasi. Akan tetapi upacara pengukuhan adat yang dilaksanakan di Tongkonan Pollok Tondok ini, tetap berjalan aman dan penuh hikmad.

Sejumlah personil aparat Polsek Bastem yang di beck up personil aparat dari Polres Luwu dan personil aparat TNI dari Koramil Bastem, tampak berjaga-jaga untuk mengamankan kegiatan upacara adat pengukuhan (to’koan) Puang Sembang Kada tersebut.

Kegiatan pengamanan upacara atar ini, dipimpin oleh Kabag Ops Polres Luwu Kompol Samurai Anata, didampingi Kasat Sabara Polres Luwu AKP Baharuddin, Kapolsek Bastem AKP Syamsuddin dan Danramil  1403/05 Bastem Lettu Kav Mursalim.

Adapun upacara pengukuhan ini dilakukan oleh sebagian besar To Parengnge’ dan perwakilan Kaparengngesan lainnya di dalam lingkup wilayah tatanan adat Sembang Kada ri Kanna.

Dalam kegiatan sakral itu, nampak terlihat turut menyaksikan tiga Pemangku Adat Banua A’pak, seperti Puang Issong Kalua ri Pantilang, Puang Ariri Bassi ri Maindo dan Puang Balimbing Kalua ri Bolu, hingga sejumlah To Parengnge’ dari Toraja.

Para To Parengnge’ dan perwakilan Kaparengngesan saat melakukan pengukuhan Puang Sembang Kada ri Kanna tersebut, dipandu oleh Ketua Dewan Adat Toraja, Tilang Sarira yang lebih akrab disapa Pong Barumbun.

Ketua Dewan Adat Toraja itu hadir untuk juga mewakili Puang Issong Kalua ri Pantilang. Tampil mengumandangkan kata-kata Tominawa atau semacam londe-londe (syair-syair –red) yang di ucapkan dalam bahasa ibu (Toraja) tinggi yang begitu sakral didengar, hingga menghipnotis para peserta upacara.

Pada kesempatan itu pula, Pong Barumbun menyampaikan bahwa dengan dikukuhkannya Sindo’ (Christina Titien Sumbu –red) sebagai Puang Sembang Kada ri Kanna oleh sebagian besar To Parengnge’ dan perwakilan Kaparengngesan di wilayah tanatanan adatnya ini.

“Hal ini, sekaligus melegitimasi Sindo’ Christina Titien Sumbu sebagai salah satu pemangku adat Banua A’pak Tongkonan Anan Pulona,” tuturnya.

Lanjut Pong Barumbun, dengan melalui Sindo’ sangat diharapkan dapat terjadi loncatan peradaban yang lebih baik bagi masyarakat adat Bastem pada umumnya, khususnya di wilayah tatanan adat Sembang Kada ri Kanna ini.

“Jadi Sindo’ yang dikukuhkan ini, apabila ditinjau dari bebagai sudut pandang, merupakan figure yang sangat tepat untuk mengemban amanah adat sebagai Puang Sembang Kada ri Kanna,” tandasnya.

”Upacara To’koan ini, sudah tidak bisa lagi diganggu gugat oleh siapapun, sebab sudah dilegitimasi oleh sebagian besar To Perengnge’ dan Perwakilan Kaparengngesan di dalam wilayah tatanan adat Sembang Kadai ri Kanna ini,” tegas Pong Barumbun.

Sementara itu, Puang Sembang Kada ri Kanna, Christina Titien Sumbu dalam sambutannya, berjanji akan mengoptimalkan potensi yang ada dalam keluarga untuk mendorong potensi budaya dan adat istiadat di lingkup tananan wilayah adat Sembang Kada pada khususnya dan Banua A’pak pada umumnya.

Walaupun saya tinggal di Makassar, lanjut Christina menyampaikan, tapi hati dan pikiran saya selalu berada di kampong kita ini.

“Jadi saya sangat mengharapkan dukungan para To Parengnge’ dan segenap keluarga untuk bersama-sama memikirkan dan berbuat lebih baik, terhadap kemajuan budaya serta adat istiadat kita di Bastem ini, utamanya di wilayah adat Sembang Kada ini, supaya berperadaban maju ke depan,” pungkasnya.

Sedangkan Makdika Bua, Andi Syaifuddin Kaddiradja Opu To Sattiaraja, saat dimintai tanggapannya atas pengukuhan Sindo’ Christina Titien Sumbu sebagai Puang Sembang Kada ri Kanna, saat dikonfirmasi media ini, Jumat (24/01/2020) malam.

Andi Syarifuddin melalui handphone-nya menyampaikan, bahwa Kedatuan Luwu tidak bisa mengintervensi upacara pengukuhan Puang Sembang Kada tersebut, karena itu merupakan hak prerogatif masyarakat adat di Bastem sendiri.

Alasannya, sebab masyarakat adat Bastem sendiri yang memahami atas tata cara upacara adat pengukuhan Puang Sembang Kada tersebut. “Pihak Kedatuan Luwu hanya ingin mengetahui, bahwa siapa Puang Sembang Kada yang sudah disepakati masyarakat adat Bastem tersebut,” tutur Makdika Bua.

Saat dimintai tanggapannya atas adanya penolakan dari sekelompok warga terhadap pelaksanaan upacara pengukuhan Sindo’ Christina Titien Sumbu sebagai Puang Sembang Kada ri Kanna.

Jawabnya, hal seperti itu sudah menjadi fenomena tersendiri yang tak terlepas menimbulkan pro-kontra. “Apalagi kalau sudah dihadiri Pak H Hafid Pasiangan, selaku Ketua Umum KKBS dan para To Parengnge’ serta para tokoh adat Bastem lainnya, maka itu sudah melegitimasi pengukuhan Puang Sembang Kada baru tersebut,” ucapnya.

Menurutnya, bahwa mengenai adanya pro-kontra terhadap pengukuhan Puang Sembang Kada, maka itu sudah merupakan hal yang biasa.

Lanjut Andi Syarifuddin menyampaikan, jadi dengan dikukuhkannya Puang Sembang Kada baru itu, maka sangat diharapkan tidak hanya bersifat seremonial pada sebatas simbolis adat semata, atau hanya menjadikan lembaga adat sebagai simbol status kebangsawanan belaka.

“Namun terpenting lagi di sini, bagaimana agar dapat menjadi inspirator dan motivator, sekaligus sebagai sumber spirit dalam menguatkan kedaulatan masyarakat adat di Bastem pada umumnya, khususnya lagi pada lingkup wilayah tatanan adat Sembang Kada ri Kanna itu sendiri,” terangnya.

Kita pun juga sangat mengharapkan, tambahnya, supaya perangkat-perangkat adat Sembang Kada dapat melibatkan para generasi muda yang memiliki wawasan budaya dan adat istiadat.

“Karena ke depan generasi mudalah selaku pewaris, sangat diharapkan untuk dapat menjadi motor penggerak, untuk mengangkat nilai-nilai kearifan lokal warisan leluhur, dalam menampilkan tatanan peradaban budaya dan adat istiadat Bastem di tengah semakin kuatnya benturan budaya global pada masa mendatang,” kunci Makdika Bua tersebut.

Sebagai bentuk informasi, bahwa digelarnya upacara adat pengukuhan Sindo’ Christina Titien Sumbu sebagai Puang Sembang Kada ri Kanna ini, sebagai bentuk tindak lanjut dari hasil pengumuman pada saat mendiang Puang Sembang Kada, Puang Henrik Sumbu, saat jenazahnya bersiap-siap untuk dilepas guna dikebumikan, pada tanggal 30 Desember 2019 lalu.

Hal tersebut sudah menjadi tradisi dalam sistem tatanan adat Bastem, bahwa setiap pemangku adat yang telah meninggal dunia, maka penggantinya harus pula di umumkan pada khalayak, sebelum jenazahnya dilepas untuk dikebumikan.

Menurut sumber media ini yang dirangkum dari sejumlah tokoh adat Bastem, apabila selama tujuh hari tidak ada pihak yang merasa keberatan atas hasil pengumuman tersebut. Maka selanjutnya dapat dikukuhkan untuk menjadi pemangku adat baru.

Namun jika terdapat pihak yang merasa keberatan, tentunya pihak tersebut harus pula melakukan ritual upacara Ma’ Kombongan adat yang bersifat terbuka. Dengan menyampaikan alasan-alasan yang dapat diterima oleh segenap masyarakat adat itu sendiri.

Akan tetapi selama jangka waktu yang telah ditentukan tersebut, tampaknya tidak ada pihak yang merasa keberatan terhadap hasil pengumuman tersebut yang ditandai dengan ritual upacara Ma’ Kombongan adat. Akhirnya Sindo’ Christina Titien Sumbu resmi dikukuhkan sebagai Puang Sembang Kada ri Kanna di wilayah tatanan adatnya. (Liputan SEN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed