oleh

Di Luwu Raya Diduga Marak Praktik-Praktik Tambang Illegal Galian C

LSM Menyoal Lokasi Tambang Nur Hidayat di Yaminas, Kecamatan Bupon

 

LUWU, NEWSTABLOIDSAR.com – Di Luwu Raya diduga marak praktik-praktik penambangan illegal galian C, baik yang tidak berizin maupun izin tambangnya yang telah habis masa berlakunya. Namun tetap saja terus melenggang untuk melakukan pengeksploitasian tambang galian C secara illegal.

Baca Juga :

Hal ini sangat disesalkan oleh sebuah kelompok LSM yang menyebut dirinya sebagai Aktivis Pembela Arus Bawah. Melalui Direktur Eksekutifnya, Rahmat K Foxchy, mendesak agar praktik-praktik penambangan illegal galian C tersebut, agar segera ditertipkan melalui sistem penegakan supremasi hukum.

Menurutnya, bahwa sangat tidak fair jika para pelaku praktik-praktik penambangan illegal galian C tersebut, sampai tidak tidak ditindak menurut ketentuan hukum yang berlaku.

“Jadi buat apa mengurus surat izin tambang galian C secara lengkap, jika yang illegal saja masih dibiarkan beroperasi,” tutur aktivis LSM yang akrab disapa Bang Ories tersebut dengan nada ketus.

Menurut aktivis LSM yang dikenal vokal tersebut, jika pihak LSM-nya, menerima informasi dari masyarakat, terkait dugaan praktik-praktik penambangan illegal galian C, mulai dari Kabupaten Luwu Timur hingga Kabupaten Luwu.

“Ya, ada beberapa titik tambang jenis galian tanah urugan yang diduga tak berizin. Namun paling banyak adalah jenis galian krikil dan batuan yang diduga tak berizin yang tersebar hampir di semua aliran sungai di Luwu Raya ini,” tuturnya.

Inikan namanya tidak fair, lanjut bang Ories menyampaikan, selain merugikan pihak pengusaha tambang galian C yang berdokumen izin secara lengkap, maka tentunya pula sangat merugikan negara dalam hal pendapatan pajak. “Terlebih lagi sangat signifikan untuk dapat menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan,” ungkapnya.

Lalu ia menyebut sejumlah dugaan praktik-praktik penambangan illegal galian C tersebut. Seperti pada sejumlah aliran sungai di Kabupaten Luwu, antara lain Sungai Noling atau Salu Paremang dan Sungai Bajo dan beberapa aliran sungai-sungai di wilayah Walenrang dan Lamasi serta Suli dan Larompong dan sekitarnya.

Termasuk pada sejumlah aliran sungai di Kabupaten Luwu Utara, seperti Sungai Rongkong, Sungai Masamba, Sungai Balease dan sejumlah aliran sungai lainnya di daerah ini.

Halnya pada sejumlah aliran sungai Kabupaten Luwu Timur, khususnya pada beberapa aliran sungai di wilayah Kecamatan Mangkutana dan sekitarnya.

Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sulsel Respon Pengaduan Aktivis LSM

Terkait maraknya dugaan praktik-praktik penambangan illegal galian C di Luwu Raya tersebut, sangat mendapat perhatian serius dari Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy.

“Ya, kasus ini tentunya akan menjadi perhatian serius LSM kami, untuk selanjutnya dilaporkan pada pihak aparat penegak hukum dan pihak instansi terkait yang berwenang. Utamanya akan kita laporkan pada pihak Dinas Penanaman Modal dan PTSP Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel),” ucapnya.

Lanjut Bang Ories menyampaikan, namun sudah ada salah satu kasus yang telah kita laporkan pada Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sulsel tersebut, yakni kasus penambangan illegal yang diduga dilakukan Nur Hidayat yang berlokasi pada aliran Sungai Noling, tepatnya di Lingkungan Yaminas, Kelurahan Noling, Kecamatan Bupon, Kabupaten Luwu.

Pasalnya, kata dia, sebab Nur Hidayat diduga kuat telah melakukan penambangan galian C di luar peta lokasi yang sudah menjadi wilayah konsesi izin tambangnya. “Jadi hal tersebut, sehingga patut dikatakan sebagai bentuk praktik-praktik penambangan illegal galian C,” terangnya.

Tampak tumpukan material kegiatan penambangan galian C diduga illegal yang berlokasi di aliran Sungai Noling, tepatnya pada Lingkungan Yaminas, Kelurahan Noling, Kecamatan Bupon Kabupaten Luwu, Sulsel yang telah dilaporkan pihak Aktivis Pembela Arus Bawah pada Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sulsel.

Hal ini terungkap atas adanya informasi dari masyarakat setempat, saat dirinya bersama-sama tim teknis dari dari pihak BBWS Pompengan Jeneberang dan pihak Kementerian PU-PR, pada Kamis (12/11/2020) ketika meninjau lokasi tambang tersebut.

Kasus ini, kata Bang Ories lagi, kita sudah laporkan via hubungan telepon seluler. “Alahmdullah, pihak Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sulsel sangat memberikan respon yang sangat baik,” akunya.

Aktivis LSM tersebut, sangat mengharapkan agar izin tambang galian C atasnama Nur Hidayat tersebut dapat dibekukan, jika memang terbukti melakukan penambangan di luar lokasi peta konsesi perizinannya. “Kita sangat menginginkan kegiatan penambangan yang jujur dan tanpa menyalahi regulasi yang berlaku,” tandas Bang Ories.

Pada kesempatan itu, Kabid Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan pada Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sulsel, Muh Said Wahab mengaku telah menerima pengaduan dari pihak LSM, terkait dugaan kegiatan penambangan Nur Hidayat yang diduga berada di luar peta wilayah konsesi tambangnya tersebut. “Terkait laporan tersebut, segera akan kita tindak lanjuti,” terangnya saat dikonfirmasi melalui nomor telepon selulernya.

Sedangkan menurut pantauan media ini, bahwa pihak Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sulsel, akan membahas salah satu dugaan tambang illegal galian C yang berlokasi di Kelurahan Noling, Kecamatan Bupon.

Adapun pembahasan terhadap praktik-praktik tambang illegal galian C diduga pelakunya bernama Yusri Sinarji tersebut akan berlangsung, Jumat (13/11/2020) besok, di Ruang Rapat Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sulsel, akan turut pula dihadiri pihak penyidik dari Polres Luwu.

Namun hingga berita ini dirilis, belum ada konfirmasi resmi yang diterima media ini, terkait adanya pembahasan terhadap praktik-praktik penambangan illegal galian C pada aliran Sungai Noling, sebagaimana yang disebut-sebut bahwa dokumen perizinannya telah habis masa berlakunya tersebut. (Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed