oleh

Ada Apa Rencana Penambangan Emas PT Bastem Indonesia, Sampai Menuai Sorotan dari Kalangan Aktivis LSM?

Buka Tambang Galian C Saja Diharuskan Sosialiasi Atau Ekspose Bersifat Transparansi Publik

 

LUWU, TABLOID SAR – Sepertinya sumber daya alam (SDA) atau natural resources yang begitu beragam dikandung dalam perut bumi Ibu Pertiwi ini, telah lama menjadi incaran kalangan kapitalisme global.

Hal itulah, sehingga pemerintah membuka lebar-lebar pintu bagi pihak investor agar dapat menanamkan modalnya. Maksudnya untuk mengelola beragamnya kekayaan natural resources tersebut, khususnya pada sektor pertambangan mineral dalam bentuk logam utamanya lagi tambang emas.

Begitupun halnya di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan ini, tampaknya juga sangat kaya dengan potensi tambang emas. Pada gilirannya, sehingga membuat sejumlah perusahaan sangat berminat melakukan ekspansi bisnis, untuk mengelola penambangan logam mulia yang sifatnya bernilai tinggi yang dikandung di dalam perut Bumi Sawerigading tersebut.

Seperti halnya PT Bastem Indonesia yang akan berencana melakukan penambangan di wilayah Bua dan Bastem, Kabupaten Luwu. Namun perusahaan tambang emas tersebut, maka tak terlepas menuai sorotan tajam dari kalangan akivis LSM.

Adapun salah satu akivis LSM yang menyoroti program sosialisasi perusahaan tambang emas PT Bastem Indonesia tersebut, yakni Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy.

“Ya, saya sebagai putra Bastem menilai bahwa program sosialisasi perusahaan tambang emas ini sangat tidak bersifat komprehensip. Mestinya perusahaan tersebut melibatkan kalangan LSM pemerhati lingkungan dan awak pers demi memenuhi asas transparasi publik,” tuturnya pada Rabu (17/03/2021).

Kita pantau kok kegiatan sosialisasi perusahaan tersebut, tuturnya lebih lanjut, tapi sepertinya sangat tertutup dengan kalangan LSM pemerhati lingkungan dan awak pers.

“Hal itu sangat disesalkan, sehingga wajar apabila banyak pihak menolak pengelolaan tambang emas di daerah ini,” terang aktivis yang akrab disapa Bang Ories itu.

Lanjut aktivis LSM yang pernah malang melintang di Jakarta tersebut, kita sama sekali tidak anti investasi tambang. Namun perlu diketahui, bahwa tambang emas itu sangat memiliki resiko tinggi baik terhadap lingkungan maupun terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, jika hanya masyakat saja yang diundang pada setiap kegiatan sosialisasi yang dilakukan perusahaan tersebut, mereka tahu apa tentang dampak lingkungan dan potensi resiko kemanusiaan yang akan muncul nantinya.

“Saya inikan putra Bastem, jadi sangat paham keterbatasan wawasan keluarga saya di Bastem, mengenai regulasi pertambangan,” terang akivis LSM yang selama ini dikenal sangat kritis tersebut.

Aktivis LSM yang selama ini malang melintang di Jakarta ini, lalu meminta pihak PT Bastem Indonesia agar tidak melanjutkan rencananya untuk membuka tambang emas di Bastem, apabila dalam melakukan sosialisasi tidak melibatkan kalangan aktivis lingkungan dan awak pers untuk kepentingan transparansi publik.

Soalnya, kata Bang Ories lebih lanjut, bahwa kegiatan penambangan emas apapun bentuknya, maka itu harus pula melalui prosedur yang sangat ketatat sebagaimana yang sudah diatur dalam undang-undang dan regulasi yang berlaku, sehingga dibutuhkan sosialisasi yang bersifat transparan. “Itu karena tingginya dampak resiko yang ditimbulkan oleh kegiatan penambangan emas tersebut,” tandasnya.

Ia pun lanjut menyampaikan, jika dikatakan bahwa kegiatan sosialisasi itu, sebagai bentuk persiapan dalan memasuki tahap eksploirasi. Sekaligus untuk dijadikan sebagai bahan penyusunan feasibility study, layak atau tidak potensi emasnya ditambang.

“Ya, justru dari tahapan itulah harus mulai ditransparansikan, supaya tidak terjadi benturan antara masyarakat perusahaan nantinya. Jangan karena dalih eksploirasi, tapi justru ada dugaan modus tertentu yang sifatnya terselubung di baliknya,” ucap Bang Ories.

Saya pikir, lebih lanjut ia menyampaikan, tidak mungkin juga PT Bastem Indonesia berspekulasi untuk membuka tambang emas di wilayah ini, kalau sebelumnya tidak melihat potensinya.

Lanjut ia mengemukakan, karena potensi emasnya dianggap layak, sehingga merencanakan untuk melakukan tahapan eksploirasi. “Kegiatan eksploirasi itu saja sudah butuh pembiayaan hingga ratusan miliar. Apa iyah PT Bastem Indonesia mau eksploirasi begitu saja, jika tidak layak. Itukan namanya konyol,” ungkapnya.

Kita dari kalangan aktivis LSM, tambahnya, terlebih lagi saya ini adalah putra asal Bastem, mendesak PT Bastem Indonesia dalam melakukan kegiatan sosialisasi, agar juga melibatkan kalangan LSM lingkungan dan awak pers.

“Namun tentunya pula harus dilakukan ekspose secara transpran, dengan melibatkan para pakar dari kalangan akademisi berkompoten menurut disiplin ilmunya masing-masing,” pungkas Bang Ories.

Ia lalu menambahkan, sedangkan membuka rencana penambangan Galian C saja, mesti diawali dengan sosialisasi yang bersifat tranparan, agar dapat mendapatkan persetujuan dari masyarakat. Untuk dijadikan sebagai dasar pengurusan tahapan-tahapan perizinan lebih lanjut. “Apalagi namanya membuka tambang emas, dengan segala potensi dampak krusial yang akan ditimbulkannya,” pungkasnya. (Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed